Langsung ke konten utama

Day 43 : Hujan

Mlg, 26 Maret 2018
Diawinasis M Sesanti

Alhamdulillah, sore ini hujan turun sebentar. Ananda yang mendengar bunyi hujan di luar langsung melihat ke luar jendela.

F: "Wah, hujan.. Jemurannya udah nggak ada", sambil melihat jemuran di balkon.
B: "Allahumma.."
F: "Shoyyiban naafian"

Menunjukkan raut bahagia ketika Allah menurunkan hujan adalah salah satu usaha kami menyemai fitrah keimanan ananda. Mencoba mengingatkan diri sendiri bahwa hujan adalah rejeki, bahwa Allah lah yang menurunkan hujan untuk makhluknya yang membutuhkan air.

Selepas hujan, sambil "gegoleran" kami pun ngobrol soal hujan tadi.
B: "Tadi hujan ya"
F: "Iya.."
B: "Sekarang masih hujan apa udah reda?"
F: "Udah berhenti"
B: "Hujan itu rejeki bukan?"
F: "Bukan"
B: "Hujan itu juga rejeki dari Allah. Kalau ada makhluk Allah yang haus bisa minum air. Ada tanaman, ada burung-burung, serangga.."
F: "Kucing juga.. Minum bekas air hujan"
B: "Kalau Farza minum air hujan juga?
F: "Nggak.. Farza minum air putih aja.."

Membangkitkan fitrah keimanan ananda, artinya orangtuanya lah yang perlu banyak-banyak tadzkiyatun nafs. Alhamdulillah dengan kehadiran ananda di rumah, kami lah yang semakin banyak belajar mendekat pada Robb yang memberi amanah anak pada keluarga kami.

#GriyaWistara
#26Maret2018
#Malang
#3y8m
#KelasPortofolioAnakbyGPA
#GriyaPortofolioAnak
#MengikatMaknaSepenuhCinta
#PekaAkanUnikAnak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JURNAL BELAJAR LEVEL 8 : CERDAS FINANSIAL

Dibutuhkan alasan yang kuat, mengapa kita perlu menerapkan cerdas finansial. Butuh pemahaman yang benar terlebih dahulu agar tak gagap dalam mengaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Sehingga kita sebagai orangtua lebih mudah membersamai ananda di rumah menjadi pribadi yang seimbang, cerdas tak hanya IQ, SQ, EQ, tetapi juga cerdas secara finansial. Bukankah anak-anak adalah peniru ulung orangtuanya? Bicara tentang finansial, erat kaitannya dengan konsep rezeki. Motivasi terbesar kita belajar tentang rezeki kembali pada fitrah keimanan kita. Allah sebagai Rabb telah menjamin rezeki (Roziqon) bagi setiap makhluk yang bernyawa di muka bumi. Saat kita mulai ragu dengan jaminan Allah atas rejeki, maka keimanan kita pun perlu dipertanyakan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, rezeki bermakna : re·ze·ki  n  1 segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan); makanan (sehari-hari); nafkah; 2  ki  penghidupan; pendapata...

JURNAL BELAJAR LEVEL 9 : KREATIF DENGAN CORETAN

Sudah menjadi fitrah bagi setiap manusia, berbinar saat melihat segala sesuatu yang indah dan bernilai seni. Sebagai seorang yang suka dengan desain, satu hal yang seringkali mengganggu saya adalah keterbatasan menguasai program digital. Belajar dengan apa yang ada, Tidak usah mengada-ada, Apalagi menunggu semua ada. Salah satu kutipan saat belajar Fitrah Based Education ini menjadi favorit saya. Tak hanya saat mendampingi ananda, tetapi juga bagi diri saya sendiri. Belajar dengan apa yang ada, memaksa diri sendiri mengoptimalkan sisi "kreatif". Tak mau kalah dengan keterbatasan , saya pun tetap menuangkan ide meski tanpa media digital. Coret-coret di media kertas biasa. Dan ternyata si doodle hasil coretan ini bisa digunakan untuk belajar dan juga diaplikasikan di berbagai benda yang menambah nilai ekonomis tentunya. Doodle Literasi Sempat belajar dengan Teh Wilda di grup @emakdoodle, membuka mata saya bahwa doodle sangat membantu bagi si pembelajar vis...

Jurnal 2.4 Menu Utama Tanpa FOMO

Pekan ini cukup berat bagi saya karena ada banyak sekali menu yang tersaji di kelas ulat-ulat Bunda Cekatan. Parade go-live dari 30 lebih keluarga di FBG terlihat sangat menarik. Selain itu juga diijinkan switch ke keluarga lain yang merupakan peta belajar kita. Saya butuh berpegang pada peta agar tak terbawa arus. Maka didapatlah menu utama dengan penuh perjuangan diet tanpa FOMO. Memahami Misi Hidup dengan Talents Mapping Keluarga TM Go Live di Kelas Bunda Cekatan Go Live Keluarga TM mengangkat tema Memahami Misi Hidup dengan Talents Mapping. Hal menarik bagi saya, adalah resign by planning. Tak hanya bagi ibu yang beralih peran dari ranah publik ke domestik, tetapi menurut saya semua ibu perlu membuat ruang-ruang sesuai bakat dominan yang dimilikinya. Tetapi satu hal yang menjadi prinsip saya, kita bisa membuat design terbaik versi kita tetapi tetap Sang Pemberi Misi adalah penentu. Jadi menjalani tugas-tugas di depan mata (yang terlihat receh) juga bukanlah kesia-s...