Langsung ke konten utama

HE Griya Wistara: Bencana Alam Karena Ulah Manusia

Bismillahirrahmanirrahiim,

Sepertinya tidak ada bedanya weekdays dan weekend belakangan ini. Semua terasa sama-sama produktif.

Hari ini kakak belajar tentang bencana alam yang terjadi karena ulah manusia. Apa saja itu???

Sebelumnya kita senam pagi & berjemur dulu, jangan lupa sholat Dhuha & mengaji Ummi jilid 4 hal 4. Oiya.. Kakak sudah sampai Al-Lail surat 1-18, alhamdulillah. Semangat kakak!

Ada PR baru nih, menonton chanel TVRI jam 8.00-8.30 pagi. Sebagai keluarga yang tidak punya televisi, akhirnya kita streaming. Karena sinyal tidak bersahabat, akhirnya balik lagi kita nonton youtube dari channel Jalan Sesama langsung. Lebih jelas dan bisa diputar kapan saja.

Terakhir, kita menulis kata: kebakaran, tanah longsor, dan banjir. Sambil menulis, kita nonton video dari BNPB tentang ketiga bencana ini. Selang seling tentu saja dengan PR asik-asik menulis yang perlu banyak iklan. Alhamdulillah selesai juga tugas kakak.

#responsibility

Kebakaran hutan https://youtu.be/5oGDjwLu8R4

Siaga kebakaran
https://youtu.be/gpeQdWPDR4c

Tanah longsor https://youtu.be/yIMEadOSGN8

Dongeng longsor
https://youtu.be/vgNKKCE042g

Banjir
 https://youtu.be/1wImlu28cWk



Ada cerita tentang taman bacaan baru di jalan sesama, dan malamnya kakak auto gelar lapak sambil baca buku-bukunya. Jangan lupa adek juga ikutan meramaikan.

#connectedness



Griya Wistara
Mlg, 12-04-2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JURNAL BELAJAR LEVEL 8 : CERDAS FINANSIAL

Dibutuhkan alasan yang kuat, mengapa kita perlu menerapkan cerdas finansial. Butuh pemahaman yang benar terlebih dahulu agar tak gagap dalam mengaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Sehingga kita sebagai orangtua lebih mudah membersamai ananda di rumah menjadi pribadi yang seimbang, cerdas tak hanya IQ, SQ, EQ, tetapi juga cerdas secara finansial. Bukankah anak-anak adalah peniru ulung orangtuanya? Bicara tentang finansial, erat kaitannya dengan konsep rezeki. Motivasi terbesar kita belajar tentang rezeki kembali pada fitrah keimanan kita. Allah sebagai Rabb telah menjamin rezeki (Roziqon) bagi setiap makhluk yang bernyawa di muka bumi. Saat kita mulai ragu dengan jaminan Allah atas rejeki, maka keimanan kita pun perlu dipertanyakan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, rezeki bermakna : re·ze·ki  n  1 segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan); makanan (sehari-hari); nafkah; 2  ki  penghidupan; pendapata...

Oncek Tela; Tradisi Mengupas Singkong Bersama

 Sekitar tahun 2000-an, ada kegiatan membuka lahan baru di bukit seberang. Deru mesin pemotong kayu bersahutan. Pohon-pohon besar dicabut hingga ke akarnya. Entah kemana perginya hewan-hewan penghuni hutan. Berpindah tempat tinggal atau justru tersaji ke meja makan.  Aroma dedaunan serta kayu basah menyebar. Tak hanya lewat buku pelajaran IPA, aku bisa melihat langsung lingkaran tahun belasan hingga puluhan lapis. Pohon-pohon itu akhirnya menyerah dengan tangan manusia. Tunggu dulu... Mengapa orang-orang justru bersuka cita? Bukankah menggunduli hutan bisa berisiko untuk tanah di perbukitan seperti ini? Waktu berselang, pertama kalinya aku menapak ke bukit seberang. Setelah menyeberang dua tiga sungai, dilanjutkan jalan menanjak hingga ke atas. Terhampar tanah cokelat yang siap menumbuhkan tanaman baru. Aku melihat terasering di bukit seberang, rumahku tersembunyi di balik rimbun pohon kelapa. Di kiri kanan terhimpun potongan pohon singkong yang siap ditancapkan. Jenis singkon...

Jejak Ki Hadjar Dewantara di Hardiknas 2024

 Siapa nama pahlawan nasional yang hari lahirnya dijadikan Hari Pendidikan Nasional? Pasti kalian sudah hafal di luar kepala. Beliau yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Suryaningrat hingga akhirnya berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara di usia 40 tahun. Anak ke-5 dari 9 bersaudara yang memiliki keteguhan dalam memperjuangkan idealisme sepanjang hidupnya.  Kisah beliau seolah tak asing, seperti menonton perjalanan seorang changemaker yang bermula dari tumbuh suburnya empati. Meskipun lahir dari keluarga ningrat, Soewardi menangkap diskriminasi tentang hak pendidikan yang hanya dinikmati oleh keluarga priyayi dan Belanda. Sementara rakyat pribumi yang merupakan teman-teman bermainnya di masa kecil tak bisa mengakses fasilitas sekolah yang dibuat Belanda di zaman itu. Soewardi muda belajar di Yogyakarta, hingga berlanjut di STOVIA meskipun tidak sampai lulus. Tentu saja ini berkaitan dengan perjuangannya sebagai "seksi media" di Budi Utomo, menyebarkan tulisan yang ber...