Langsung ke konten utama

Cemilan Rabu #3 BIARKAN ANAKMU BERPROSES

������Cemilan Rabu #3������

Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

*Ayah Bunda, Biarkan Anakmu Berproses*

Jika anak kerap meminta secara berlebihan dan selalu ingin dilayani, layaknya kita waspada. Apa yang terjadi pada diri anak kita kemungkinan sinyal bahwa ia tidak tumbuh menjadi anak yang mandiri. Namun jangan pula terburu-buru menyalahkan anak. Sebab apa yang terjadi tak lepas dari bagaimana kita mendidiknya.

Melatih anak mandiri memang bukan persoalan gampang. Seringkali orang tua bersikap *ambivalen* dalam menghadapi anak. Di satu pihak mereka menuntut anak menjadi mandiri, namun di sisi lain orang tua kurang berteguh hati untuk memberikan kesempatan pada anaknya untuk mencoba. Padahal keyakinan diri anak-anak tumbuh ketika mereka menyelesaikan aktivitas  kemandirian mereka. Bagi anak, dengan memberikan kontribusi dalam keluarga, mereka melihat dirinya sebagai anggota yang penting dari "tim" keluarga. Di samping itu, ketika mereka menguasai keterampilan baru mereka merasa berkompeten.

Sikap bijaksana orangtua memang sangat diperlukan dalam membentuk kemandirian anak. Orang tua tidak perlu bersikap terlalu melindungi. Berikanlah anak kebebasan untuk mengungkap segala keinginan dan pikirannya. Orang tua juga tidak perlu malu atau gengsi jika anak melakukan kesalahan.

Ukuran kebenaran bagi anak tidak dapat dilihat dari kacamata orang dewasa. Lagi pula dari kesalahan itu, anak akan belajar lebih banyak. Ingatlah, bahwa orang tua tidak selalu ada di samping anak untuk membantunya seumur hidup. Karena itu, ketika anak belajar mandiri, tunjukkanlah bahwa orang tua memperhatikan hal-hal yang mereka lakukan. Pujian dan dorongan akan memotivasi anak dan membuat mereka merasa bangga.

Anak-anak senang ketika mereka diliputi kehangatan yang mengalir dari persetujuan orang tua yang selalu mereka cari. Anak juga berharap orang tua memberikan tanggung jawab kepada mereka, Karena bila larangan itu hadir, kelak anak akan menjadi bingung dan kehilangan respek terhadap orang tua yang tidak memberikan kepercayaan dan tanggung jawab.
Maka Ayah Bunda biarkanlah anak  mandiri dan bertanggung jawab, meskipun hasilnya belum maksimal, terus fokus mendampingi anak berproses secara bertahap.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

��Bahan Inspirasi :

Nina Chairani & Nurachmi W., penyunting. Biarkan Anak Bicara, Jakarta. Republika, 2003

William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JURNAL BELAJAR LEVEL 8 : CERDAS FINANSIAL

Dibutuhkan alasan yang kuat, mengapa kita perlu menerapkan cerdas finansial. Butuh pemahaman yang benar terlebih dahulu agar tak gagap dalam mengaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Sehingga kita sebagai orangtua lebih mudah membersamai ananda di rumah menjadi pribadi yang seimbang, cerdas tak hanya IQ, SQ, EQ, tetapi juga cerdas secara finansial. Bukankah anak-anak adalah peniru ulung orangtuanya? Bicara tentang finansial, erat kaitannya dengan konsep rezeki. Motivasi terbesar kita belajar tentang rezeki kembali pada fitrah keimanan kita. Allah sebagai Rabb telah menjamin rezeki (Roziqon) bagi setiap makhluk yang bernyawa di muka bumi. Saat kita mulai ragu dengan jaminan Allah atas rejeki, maka keimanan kita pun perlu dipertanyakan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, rezeki bermakna : re·ze·ki  n  1 segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan); makanan (sehari-hari); nafkah; 2  ki  penghidupan; pendapata...

JURNAL BELAJAR LEVEL 9 : KREATIF DENGAN CORETAN

Sudah menjadi fitrah bagi setiap manusia, berbinar saat melihat segala sesuatu yang indah dan bernilai seni. Sebagai seorang yang suka dengan desain, satu hal yang seringkali mengganggu saya adalah keterbatasan menguasai program digital. Belajar dengan apa yang ada, Tidak usah mengada-ada, Apalagi menunggu semua ada. Salah satu kutipan saat belajar Fitrah Based Education ini menjadi favorit saya. Tak hanya saat mendampingi ananda, tetapi juga bagi diri saya sendiri. Belajar dengan apa yang ada, memaksa diri sendiri mengoptimalkan sisi "kreatif". Tak mau kalah dengan keterbatasan , saya pun tetap menuangkan ide meski tanpa media digital. Coret-coret di media kertas biasa. Dan ternyata si doodle hasil coretan ini bisa digunakan untuk belajar dan juga diaplikasikan di berbagai benda yang menambah nilai ekonomis tentunya. Doodle Literasi Sempat belajar dengan Teh Wilda di grup @emakdoodle, membuka mata saya bahwa doodle sangat membantu bagi si pembelajar vis...

Pulang ke Udik: Menggelar Kenangan, Membayar Hutang Kerinduan

Sebagai warga perantau, bagi Griya Wistara acara mudik bukan lagi hal baru. Entah pulang ke rumah orangtua di luar kota dalam propinsi maupun mertua yang lebih jauh, antar kota antar propinsi. Bukan hal mudah dalam mempersiapkan mudik, sebutlah H-3 bulan kami harus berburu tiket kereta agar tak kehabisan sesuai tanggal yang direncanakan. Pernah suatu waktu kami harus pasang alarm tengah malam, karena hari sebelumnya sudah kehabisan tiket kereta yang diharapkan. Padahal baru jam 00.15 WIB, artinya 15 menit dari pembukaan pemesanan. Belum lagi persiapan deretan kebutuhan selama sekian hari di kampung halaman. Mana barang pribadi, mana milik pasangan, dan persiapan perang ananda tak ketinggalan. Jangan tanya rancangan budget lagi, saat pengeluaran mendominasi catatan keuangan. Membawa sepaket koper alat perang, melipat jarak agar semakin dekat. Perjalanan selalu menyisakan hikmah. Bukan perkara mudah mengelola sekian jam di atas kereta bersama balita. Alhamdulillah, beberapa kali mele...