Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

ALASAN

Sudah baca apa hari ini? Saya dong, baca cerita. Hahaha.. Jangan berharap banyak orang kaya saya baca buku level berat. Banyakan baca status di medsos iya. Alhamdulillah hari ini ada satu cerita menarik. *** Suatu hari, di sebuah negeri. Orang-orang mulai membenarkan sebuah kebiasaan yang sebenarnya dilarang. Satu golongan terus melanggar aturan. Satu golongan berpegang pada aturan. Satu lagi berada di tengah, tidak melanggar namun juga tidak mencegah. A: Buat apa sih, ngasih tau orang yang sudah jelas tidak bisa diingatkan? B: Agar bisa menjadi alasan. Lepas tanggungjawab, nanti kalau ditanya pas "LPJ"-an Waktu berlalu. Semua mulai lupa. Yang mengingatkan diselamatkan. Yang tidak mengindahkan peringatan pun menanggung akibatnya. #AshabushSabti #Aylah #AlAraf164-166 *** Kadang was-was juga kalau ada yang ngingetin, terus diri sendiri suka bawel dengan stok alasan-alasan yang dibuat-buat. "Dek, itu ga boleh dilewati lho." Tapi mas mbak itu lho, juga

JURNAL BELAJAR LEVEL 9 : KREATIF DENGAN CORETAN

Sudah menjadi fitrah bagi setiap manusia, berbinar saat melihat segala sesuatu yang indah dan bernilai seni. Sebagai seorang yang suka dengan desain, satu hal yang seringkali mengganggu saya adalah keterbatasan menguasai program digital. Belajar dengan apa yang ada, Tidak usah mengada-ada, Apalagi menunggu semua ada. Salah satu kutipan saat belajar Fitrah Based Education ini menjadi favorit saya. Tak hanya saat mendampingi ananda, tetapi juga bagi diri saya sendiri. Belajar dengan apa yang ada, memaksa diri sendiri mengoptimalkan sisi "kreatif". Tak mau kalah dengan keterbatasan , saya pun tetap menuangkan ide meski tanpa media digital. Coret-coret di media kertas biasa. Dan ternyata si doodle hasil coretan ini bisa digunakan untuk belajar dan juga diaplikasikan di berbagai benda yang menambah nilai ekonomis tentunya. Doodle Literasi Sempat belajar dengan Teh Wilda di grup @emakdoodle, membuka mata saya bahwa doodle sangat membantu bagi si pembelajar vis

Buah Tin

Waktu hamil Wistara kedua, buah ini masuk dalam daftar buah yang mengundang rasa penasaran. Kalau tak boleh disebut ngidam, cukuplah buah yang membuat mata berbinar walau lewat menatap gambar yang seliweran di media sosial. Dan akhirnya beberapa bulan lalu baru bisa mencicipi buah manis ini. Setelah berhasil menanam sendiri, lebih tepatnya bapak yang tanam. Haha Mungkin karena disebut dalam kitab suci, keberadaannya menjadi istimewa. Tin purple Jordan yang pertama kami coba tanam. Sekitar enam bulan sudah bisa mencicipi, 5 buah ranum masak pohon yang luar biasa. Bentuknya seperti hati, saat muda berwarna hijau dan berubah merah keunguan ketika masak. Saat dibelah, daging buahnya manis, ada biji-biji kecil berkumpul sebesar biji stroberi di tengahnya. Rasanya mirip pepaya, tapi ini berbeda. Kresss bijinya menambah nikmat rasanya. Dan mencoba kembali peruntungan dengan Tin jenis blue giant. Semoga berjodoh kembali mencicipi buah istimewa ini.