Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

ALASAN

Sudah baca apa hari ini? Saya dong, baca cerita. Hahaha.. Jangan berharap banyak orang kaya saya baca buku level berat. Banyakan baca status di medsos iya. Alhamdulillah hari ini ada satu cerita menarik. *** Suatu hari, di sebuah negeri. Orang-orang mulai membenarkan sebuah kebiasaan yang sebenarnya dilarang. Satu golongan terus melanggar aturan. Satu golongan berpegang pada aturan. Satu lagi berada di tengah, tidak melanggar namun juga tidak mencegah. A: Buat apa sih, ngasih tau orang yang sudah jelas tidak bisa diingatkan? B: Agar bisa menjadi alasan. Lepas tanggungjawab, nanti kalau ditanya pas "LPJ"-an Waktu berlalu. Semua mulai lupa. Yang mengingatkan diselamatkan. Yang tidak mengindahkan peringatan pun menanggung akibatnya. #AshabushSabti #Aylah #AlAraf164-166 *** Kadang was-was juga kalau ada yang ngingetin, terus diri sendiri suka bawel dengan stok alasan-alasan yang dibuat-buat. "Dek, itu ga boleh dilewati lho." Tapi mas mbak itu lho, juga

JURNAL BELAJAR LEVEL 9 : KREATIF DENGAN CORETAN

Sudah menjadi fitrah bagi setiap manusia, berbinar saat melihat segala sesuatu yang indah dan bernilai seni. Sebagai seorang yang suka dengan desain, satu hal yang seringkali mengganggu saya adalah keterbatasan menguasai program digital. Belajar dengan apa yang ada, Tidak usah mengada-ada, Apalagi menunggu semua ada. Salah satu kutipan saat belajar Fitrah Based Education ini menjadi favorit saya. Tak hanya saat mendampingi ananda, tetapi juga bagi diri saya sendiri. Belajar dengan apa yang ada, memaksa diri sendiri mengoptimalkan sisi "kreatif". Tak mau kalah dengan keterbatasan , saya pun tetap menuangkan ide meski tanpa media digital. Coret-coret di media kertas biasa. Dan ternyata si doodle hasil coretan ini bisa digunakan untuk belajar dan juga diaplikasikan di berbagai benda yang menambah nilai ekonomis tentunya. Doodle Literasi Sempat belajar dengan Teh Wilda di grup @emakdoodle, membuka mata saya bahwa doodle sangat membantu bagi si pembelajar vis

Buah Tin

Waktu hamil Wistara kedua, buah ini masuk dalam daftar buah yang mengundang rasa penasaran. Kalau tak boleh disebut ngidam, cukuplah buah yang membuat mata berbinar walau lewat menatap gambar yang seliweran di media sosial. Dan akhirnya beberapa bulan lalu baru bisa mencicipi buah manis ini. Setelah berhasil menanam sendiri, lebih tepatnya bapak yang tanam. Haha Mungkin karena disebut dalam kitab suci, keberadaannya menjadi istimewa. Tin purple Jordan yang pertama kami coba tanam. Sekitar enam bulan sudah bisa mencicipi, 5 buah ranum masak pohon yang luar biasa. Bentuknya seperti hati, saat muda berwarna hijau dan berubah merah keunguan ketika masak. Saat dibelah, daging buahnya manis, ada biji-biji kecil berkumpul sebesar biji stroberi di tengahnya. Rasanya mirip pepaya, tapi ini berbeda. Kresss bijinya menambah nikmat rasanya. Dan mencoba kembali peruntungan dengan Tin jenis blue giant. Semoga berjodoh kembali mencicipi buah istimewa ini.

Aku Beruntung

Tak terhitung lagi keberuntungan yang Allah berikan sepanjang hidupku. Bahkan nama pasangan hidup pun bermakna 'seseorang yang beruntung'. Maka tak ada alasan untukku tidak bersyukur, bukan? Keberuntunganku dimulai di hari Kamis di bulan Oktober. Saat seorang ibu menantikan saat-saat berjumpa bayi pertamanya. Proses yang cukup panjang hingga hampir kehabisan tenaga. Rupanya macet bahu jadi penyebab si jabang bayi butuh perpanjangan waktu kala itu. Konon katanya, hal semacam ini sering terjadi jika "tukang parkirnya" tak sabar dalam memberi aba-aba. Dan aku pun tertawa saat mbak berkelakar kelanjutan kisahnya. Sejak lahir ternyata aku sudah tak banyak bicara, menangis pun tidak. Tapi gara-gara ini, ternyata orang-orang panik setengah mati. Tubuh yang baru keluar dari rahim itu dijungkir balik, ada yang membuat bunyi-bunyian, ada yang bolak-balik menengok si bayi. Bisa jadi waktu itu lebih heboh dibanding ibu-ibu bertemu diskonan akhir tahun. Padahal ini kisahku, tapi

Pecahan Persona

Wajah-wajah ini tak lagi asing bagiku. Beberapa semester yang telah berlalu, kami habiskan bersama dengan belajar ilmu tentang perilaku. Semua tampak duduk di deretan kursi hitam yang disusun di ruang tunggu. Kemeja putih, rok dan celana bahan berwarna hitam menambah kesan kaku. "Sebentar lagi akan kami panggil sesuai nomor urut", seseorang dengan pakaian berbeda memberi pengumuman sebelum menghilang kembali di balik pintu. Tiba juga giliranku. Aku tak ingat betul angka berapa saja yang disebut. Tetapi kini di kiri kananku ada lebih dari lima kepala. Sedang sibuk mengisi lembar jawaban dari soal yang diletakkan di meja. Tepat di hadapan tiap mata. Bergiliran tiap gelombang mengeja tiap kata. Menuliskan rangkaian respons dari setiap tanya. Kadang lebih banyak karangan indah ditemukan di sana, keluar jalur dari plang petunjuk pengerjaan sebenarnya. Kulihat beberapa panitia sibuk memeriksa tiap lembar "karya" tiap peserta. Dua nilai tertinggi akan bertanding da

DIY Maze

Main yang simple, memakai bahan yang ada. Tapi tetap bahagia. Alat & Bahan: Kertas tebal / kardus Sedotan Gunting Doubletape Pensil Spidol Cara membuat: -Buat pola maze di kertas tebal dengan pensil, pastikan ada start-finish yang bisa dilewati -Gunting sedotan sesuai pola kemudian tempel dengan doubletape -Gambar lokasi start dan finish memakai spidol. Bisa berupa tempat, makanan hewan, dsb. Ceritanya seekor zebra sedang mencari rumput di ujung maze. Di mana ya jalannya? Stimulasi: -Kognitif : menemukan jalan untuk zebra agar bisa merumput. -Kesabaran + konsentrasi. -Level kesulitan maze bisa disesuaikan dengan kemampuan anak. Respons kakak/4y4m : Sejak awal mau bikin-bikin sudah tampak berbinar. Membantu mengambilkan alat dan bahan, menunggui hingga selesai. Setelah jadi, ikut membuang sampah sisa double tape. Kakak berusaha menemukan jalan meskipun sempat "menabrak" beberapa kali. Setelah ketemu, kakak inisiatif memakai spidol untuk memandai jalan yang

JURNAL BELAJAR LEVEL 8 : CERDAS FINANSIAL

Dibutuhkan alasan yang kuat, mengapa kita perlu menerapkan cerdas finansial. Butuh pemahaman yang benar terlebih dahulu agar tak gagap dalam mengaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Sehingga kita sebagai orangtua lebih mudah membersamai ananda di rumah menjadi pribadi yang seimbang, cerdas tak hanya IQ, SQ, EQ, tetapi juga cerdas secara finansial. Bukankah anak-anak adalah peniru ulung orangtuanya? Bicara tentang finansial, erat kaitannya dengan konsep rezeki. Motivasi terbesar kita belajar tentang rezeki kembali pada fitrah keimanan kita. Allah sebagai Rabb telah menjamin rezeki (Roziqon) bagi setiap makhluk yang bernyawa di muka bumi. Saat kita mulai ragu dengan jaminan Allah atas rejeki, maka keimanan kita pun perlu dipertanyakan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, rezeki bermakna : re·ze·ki  n  1 segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan); makanan (sehari-hari); nafkah; 2  ki  penghidupan; pendapatan (uang dan sebagainya untuk

Tentang Mertua dan Menantu

Balada mertua-menantu seolah memiliki daya tarik selalu. Bukan hal baru, bahkan menjadi bumbu di cerita buku hingga ragam drama terbaru. Seolah menjadi maklum saat keduanya tak sejalan. Sang mertua memperebutkan perhatian anaknya yang mulai terbagi, sementara sang menantu tak mau juga dinomor duakan. Belum lagi perbedaan bentuk kasih sayang pada sang cucu. Perbedaan latar belakang, pendidikan, pola asuh, buku yang dibaca, tayangan yang dilihat, selera dapur, sudah tak kurang-kurang menambah daftar panjang celah antara keduanya. Namun tak semua begitu. Banyak juga yang tetap memiliki hubungan yang sehat antara mertua-menantu. Saya sendiri? Status masih belajar jadi menantu, artinya ya masih sering juga bertanya-tanya bagaimana idealnya menantu di mata mertua. Pertama kali bertemu calonnya mertua saat calon suami menyelesaikan studi S1nya di Jogja. Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Berharap masuk kualifikasi calon mantu, jadi  belum keluar lah "sisi kelam&q

Regenerasi

Seperti membesarkan anak, komunitas pun akan tumbuh seiring waktu. Perlahan tapi pasti, akan ada masanya kita menguatkan diri melihat apa yang kita rawat mulai berjalan, bahkan berlari jauh menuju apa yang kita cita-citakan. Rumah Belajar DoodleArt IP Malang Raya Jatimsel Pertengahan tahun 2017 saat kopdar, saya diminta untuk menjadi penanggungjawab rumbel yang baru sesuai passion yang saya punya. Perlahan menemukan teman seperjuangan. Tantangan pun muncul di tiap cawunya. Galau dengan silent reader, galau dengan member yang silih berganti, kesulitan menemukan narasumber, menentukan program belajar, dan beragam tantangan lainnya. Kehilangan dua member aktif di cawu sebelumnya, cukup membuat saya keder. Tapi kado terindah saat diberi kabar bahwa keduanya membuat rumbel baru di IP domisili yang baru. Diundang pula untuk sharing ke Rumbel DoodleArt & Lettering IP Non Asia dan IP Kedira. Alhamdulillah ala kulli haal. Alhamdulillah di cawu ini pun penuh kejutan. Para member belajar

PART 4 : MENYEBALKAN

Dza, kolam enceng gondok. "Siapa nama cowokmu? W**d*? Hahaha... Mirip nama cewek!!" Mendengar komentarnya membuat mukaku lebih mirip uang dua ribu yang berpindah-pindah dari angkot, tukang parkir, hingga tukang gorengan. Tak berbentuk. Tapi kali ini aku malas menyahut. Seperti main tinju melawan Mike Tyson, jelas bukan keahlianku menyela orang satu ini. Ah, meskipun cupu tapi aku juga punya perasaan. Rasa suka pada seseorang. Perasaan yang tak sejalan lebih tepatnya. "Tau ga, bu Ainun itu dokter lho.", kembali dia mencoba membuka pembicaraan. "Bu Ainun?", kuangkat satu alisku. "Yang istrinya pak Habibi." "Oh. " "Jadi mau ambil jurusan apa nanti?" "Yang jelas bukan kedokteran seperti bu Ainun. ", kali ini aku yakin sepenuh hati. Dan obrolan panjang pun mengalir. Dari mata air, anak sungai, hingga tak terasa lautan di depan mata mulai menenggelamkan. Ah, harusnya aku tak terbawa arus, aku lupa tak bisa beren

4 Langkah Menambah Jam Terbang dalam DoodleArt

Saat berbicara tentang fitrah bakat, tidak sah rasanya jika potensi diri berhenti setelah diketahui. Kita butuh ruang-ruang untuk memberi jalan pada tiap potensi agar mencapai kemanfaatan. Ibarat modal, selamanya tak akan bertambah atau berkurang jika tak pernah digunakan untuk usaha tertentu. Menurut penelitian, prosentase mahasiswa salah jurusan begitu besar. Namun bisa jadi itu adalah proses belanja pengalaman yang tertunda (harusnya dilakukan di masa pre akil baligh). Artinya bukan masalah sekalipun baru setelah lulus kita menemukan ruang yang nyaman untuk memberi ruang pada bakat diri. Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Tentu kita sudah tak asing lagi dengan tallents mapping dari temubakat.com karena menjadi salah satu PR di matrikulasi Institut Ibu Profesional. Setelah memahami kecenderungan kita, dilanjutkan memilih aktivitas yang mudah dan menyenangkan bagi diri sendiri. Bidang-bidang yang dipilih bisa jadi benar-benar baru, atau justru memang yang sudah lama di

Resolution

Challenge #7 "Resolution" Masih melanjutkan mimpi yang baru bermula. Perjalanan masih panjang untuk sampai di finish line, meskipun sejujurnya kami tak pernah tahu berapa banyak sisa waktu yang kami punya. Harapan untuk diri sendiri, keluarga, dan orang-orang di sekitar kami. Hanya sederhana, semoga Allah mengijabah doa-doa kami. Diawinasis M Sesanti Mlg, 18-09-18 *** -UkuranA4 -Semiplanned Doodle -Drawing pen 0.2, 2.0, cat air #Challenge7 #RumbelDoodleart #IPMalangRayaJatimsel #NewYearResolution

Jurnal Belajar Level 7 : Semua Anak Adalah Bintang

Usia 0-6 tahun : selesai dengan diri sendiri. Salah satu tantangan yang paling identik dengan tema level 7 ini, adalah saat orangtua mulai galau dan membanding-bandingkan anaknya dengan anak orang lain. Atau yang paling dekat dengan saudara kandungnya sendiri. Seolah-olah anak harus mengikuti sebuah pertandingan yang belum tentu setara dengan dirinya. " Coba lihat, mas itu sudah bisa jalan. Kamu kok belum?" "Berani nggak maju ke depan seperti mbak ini? " Setiap anak memiliki sisi unik yang menjadikannya bintang. Allah tak pernah salah dalam membuat makhluk, maka melihat sisi cahaya dari setiap anak adalah keniscayaan bagi setiap orangtua. Berusaha dalam meninggikan gunung, bukan meninggikan lembah. Mengasah sisi yang memang tajam pada diri anak butuh kepekaan bagi orangtua. Dalam buku CPWU, dapat diambil teknik E-O-WL-W untuk menemukan kelebihan setiap anak. 1. Engage Atau membersamai anak dalam proses pengasuhan dan pendidikan dengan sepenuh hati (yang

Part 3: Fisik

Dza, Pada suatu pagi. Rara masih terlihat sibuk. Beberapa teman sekelasnya pun memiliki aktivitas yang sama, mengerjakan PR Kimia. Aku memilih balik kanan kembali ke kelas, enggan mengganggu. Padahal di kepalaku sudah berbaris rapi pertanyaan tentang kejadian kemarin. Jam istirahat, tapi Rara tetap tak terlihat batang hidungnya. Baiklah, sepertinya lebih baik aku menyerah kali ini. Kembali ke kelas berarti aku harus belok kanan, tapi kakiku memilih belok ke kiri. Mendarat sempurna di salah satu bangku di kelas sebelah. Kelas Mikha. "Gimana kemarin, jadi ketemuan?", gadis manis yang juga sahabatku itu tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Aku mengangguk pelan. "Tapi ada yang aneh sama Rara, sepertinya dia menghindariku. " "Kemarin bareng dia kan?" Sekali lagi aku mengiyakan. Dan kami pun memilih berganti topik pembicaraan setelah buntu soal Rara. *** "Cantik nggak, jangan-jangan selama ini ngobrol sama..." Jadi kalimat ini yang membu

DoodleArt

Biasanya identik dengan anak muda yang banyak memiliki waktu luang. Umumnya disebut doodle jika berupa gambar karakter bertumpuk, baik monster, tokoh kartun, dsb. Apa benar demikian? Find your own definition. Doodle : coretan Art : seni Sebenarnya saya tak punya banyak teori dan referensi tentang doodleArt, namun saya menyukai membuat coretan langsung. Belakangan saya belajar lewat saling berbagi dengan doodler lain yang memiliki minat yang sama. Dengan kata lain: *learning by doodling and sharing* yang juga menjadi tagline RumBel DoodleArt IP Malang Raya dan Jatimsel. Hanya yang berbakat seni yang bisa membuat doodle? Bahkan sejak anak-anak saat pertama mengenal alat tulis, doodle lah yang biasanya dibuat sampai bisa memenuhi dinding rumah. Setelah di sekolah, buku tulis, paket, bahkan bangku pun umumnya sering ditemukan "karya" berupa doodle. Jadi siapapun sebenarnya bisa. # Bagaimana Membuatnya? Just do it! Tidak punya alat lukis, cat, kuas, dsb? Gunakan #alatbah

Part 2 : Berbakat

Dza, Lucky Number 13? Sekolah favorit. Siapa yang tak mau menjadi bagian di dalamnya? Dan tepat di urutan 13 ada namaku di daftar siswa yang diterima. Artinya tahun depan akan ada kakak kelas keren itu lagi yang mengisi hari-hari. Ah, tunggu.. Ada juga si A, B, C, siapa lagi itu!? Sepertinya aku perlu meluruskan niat lagi. Bukan mereka tujuanku ada di sini. *** Dza, Underachiever Di sini semua "anak pintar" yang pernah kutemui berkumpul. Kakak kelas yang dulu, mbak itu, mas ini. Dan aku? Masih tetap di sepuluh besar di kelas, bedanya kali dari urutan terbawah. Apa aku tak lagi pintar? Ah bukan, apa iya aku ini pintar jika tak lagi juara di kelas. Kenapa harus dibandingkan dengan mereka? Seiring waktu aku pun semakin tertinggal. Bukan dengan teman di kelasku, tapi dengan diriku sendiri. Aku tak lagi berusaha menjadi pintar atau tertarik dengan orang pintar. *** Dza, Bulu Burung Diantara pencarianku, semakin banyak orang yang menarik perhatianku. Si jago bela diri, si

Berkenalan Dengan si "Buah Sabun"

Beberapa waktu terakhir saya mulai tertarik menyimak beranda media sosial para penggiat zero waste. Mulai dari mencegah sampah masuk ke rumah, memilah sampah, dan terakhir mengolah sampah. Banyak sekali ilmu yang sebenarnya merupakan kearifan lokal di daerah namun mulai tergerus zaman dimana semua serba instan dan melupakan tugas manusia sebagai pemakmur bumi. Meskipun saya belum bisa melakukan hidup nol sampah sepenuhnya, setidaknya mengurangi sampah sepertinya sangat bisa dilakukan. Satu yang paling membuat saya penasaran adalah buah kecil mirip kelengkeng yang katanya bisa menjadi sabun cuci alami pengganti detergen yang pada umumnya digunakan. Buah ini disebut klerak atau lerak. Bagi saya pribadi, lerak lebih familiar digunakan untuk mencuci batik agar warnanya awet tak mudah pudar. Selebihnya saya tidak punya referensi apapun tentang buah ini. Maka bermodal rasa penasaran ini lah, saya pun bertanya pada generasi sebelumnya yang kemungkinan besar pernah hidup di masa belum ada s

Part 1 : SMART

Dza, Pulang Sekolah Bel sudah berbunyi beberapa waktu yang lalu. Kerumunan siswa yang melewati gerbang utama sudah semakin berkurang. Wajar, semua ingin cepat sampai rumah di akhir pekan seperti ini. Aku memilih lewat gerbang sebelah barat yang lebih sepi. Beberapa siswa perempuan berjalan berlawanan arah denganku. Oh, anak kelas sebelah. Beberapa kali kulihat ia sering bertukar pekerjaan rumah dengan teman sekelasku. Aku hanya tersenyum. Menyapa ala kadarnya. Rasanya aneh untuk terlalu akrab dengan temannya teman. "Salam ya ke Zifa.. Cowokmu kan itu", katanya menggoda. Krik.. Krik.. Krik.. Aku butuh waktu lebih lama mencerna kalimat terakhirnya. Tahu darimana gadis ini, jika aku menaruh rasa pada Zifa? Ah ya, Zifa teman sekelasku selama setahun terakhir. Pemuda berkacamata itu memang bintang kelas, siapa yang tak kenal. Cowok pintar memang menarik ya? Lalu berkelebat wajah si kakak kelas berponi yang selalu juara umum saat masih sekolah di sini. Muncul juga si langgana

Membandingkan

Di kehamilan pertama, terasa sekali saya mudah tersentuh. Bahkan sering menangis tanpa sebab yang jelas. Ibu hamil memang sensitif. Pun di kehamilan kali ini, hanya saja tak seekstrim pertama. Saat adik baru lahir, banyak hal mirip 11-12 dengan kakak. Wajah yang mirip, rambut hitam lurus yang sama, mata coklat, seperti memulai kembali bertemu kakak pertama kali. Pengalaman-pengalaman saat membersamai kakak pun berkelebatan, menjadi amunisi melewati berbagai tantangan memasuki dunia kedua. Ketika Allah titipkan amanah baru bagi kami, selalu saja terbersit rasa untuk membandingkan. Dulu waktu hamil pertama sering merasakan morning sickness hingga menguras isi perut, sedangkan kehamilan kali ini tidak. Dulu si kakak masih sanggup antri dokter hingga tengah malam. Sedang yang ini sejak periksa pertama hingga melahirkan cukup dengan bidan. Dulu tak bisa merasakan IMD. Dulu kakak masih sulit membedakan siang malam, begadang bahkan hingga bulan ke enam. Maka kami harusnya lebih bersyukur ke

Dua Wistara

Teruntuk dua mutiara, buah hati Bunda Lamat-lamat masih terbayang tangis haru Bunda Ketika hadir kalian menyapa dunia Satu waktu di tengah hari Satu lagi ketika malam hampir menepi Dengar nak, Betapa besar cintaNya Menghadirkan dua makhluk surga di hidup Bunda Mengisi hari semakin bermakna Meski Bunda akui, Soal pengasuhan, diri ini begitu fakir Hingga tersadar bahwa hadir kalian lah sang guru Memberi hikmah lewat laku Mengeja tiap tetesan ilmu Bersama tubuhmu yang kian meninggi Seiring ocehan bayi berganti cerita imaji Waktu seperti berlari Ingin kupeluk agar ia mau sejenak berhenti Lepaskan beban, berpelukan, dan saling menjaga Jadilah bijaksana ... Jadilah bercahaya ... Berpendar untuk menebar kemanfaatan sebanyak-banyaknya Bunda Wistara Tgk, 31 Juli 2018

"Raise your child, raise your self"

Challenge #4 Mendidik anak adalah tugas orangtua. Namun di balik upaya kita menyemai setiap fitrah mereka, sebenarnya kita lah yang ikut bertumbuh. Anak-anak adalah guru kehidupan bagi orangtuanya. Dengan kehadiran mereka, Allah Ta’ala menyediakan samudra hikmah untuk kita selami. Tetap relaks dan optimis, menyemai fitrah ananda dan kita akan menemukan fitrah keayah-bundaan dalam diri ikut berseri. Diawinasis M Sesanti Tgk, 31-07-18 *** -UkuranA5 -Semiplanned Doodle -Drawing pen 0.2 #Challenge4 #RumbelDoodleart #IPMalangRayaJatimsel #IIP #JCC

"Ibu Pembelajar"

Challenge #4 Karena menuntut ilmu itu dimulai dari buaian hingga liang lahat, maka tak ada alasan bagi ibu untuk berhenti menuntut ilmu. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi ilmu tersebut akan berpendar dan menjadi cahaya bagi anak, keluarga, serta lingkungan di sekitar. Teruslah belajar, wahai ibu. Diawinasis M Sesanti Tgk, 31-07-18 *** -UkuranA5 -Semiplanned Doodle -Drawing pen 0.2 #Challenge4 #RumbelDoodleart #IPMalangRayaJatimsel #IIP #JCC

RBI 2: Day 76

Diawinasis M Sesanti Tgk, 26 Juli 2018 #OneDayOneDoodle Alhamdulillah done 2 doodle yang kemarin sempat tertunda. Sekaligus hari terakhir di RBI 2, namun project #OneDayOneDoodle Insya Allah akan terus berlanjut. #2ndW #OneDayOneDoodle #GriyaWistara #RuangBerkaryaIbu #Ibu Profesional #MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta #KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu #Proyek2RBI #Day76

Dosa Pengasuhan

Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, setiap anak memiliki kecenderungan pada kebaikan. Terngiang akan hal ini, ada satu PR yang menjadi ganjalan kami sebagai orangtua beberapa waktu belakangan. Yaitu terkait fitrah jasmani ananda yang perlahan bergeser. Melihat si adik bayi yang mudah bangun pagi, seharusnya kakak pun juga mudah melakukannya. Tapi jadwal bangun tidur ananda jauh melampaui waktu subuh membuat kami agak khawatir karena ini berarti menyalahi fitrah. Padahal nanti nature character (fitrah) ini dibutuhkan ketika bertemu nurture character (adab) terutama saat memasuki masa pra latih (7-10 tahun). Akan sulit rasanya saat tiba waktunya mengajarkan sholat ketika anak kesulitan bangun subuh. Sebelum terlambat, sepertinya kami butuh "bantuan" saat kesulitan datang. Benar, tadzkiyatun nafs memberi sedikit pencerahan. Karena Dialah Allah, Pendidik terbaik bagi anak-anak kita. Tak ada yang mustahil ketika Allah sudah berkehendak. Kami pun introspeksi kembali, ternyata

RBI 2: Day 74-75

Diawinasis M Sesanti Tgk, 25 Juli 2018 #OneDayOneDoodle #Sketch Dua hari ini terpaksa berhenti di sketsa, belum menyelesaikan 2 doodle yang sebenarnya sedang on going. Why? Karena prioritas tugas domestik lebih utama. Sekali lagi, memang harus dibuat mana yang utama baru kemudian memberi ruang pada fitrah bakat diri. Semua harus seimbang agar tidak timpang, masing-masing mendapatkan haknya. #2ndW #OneDayOneDoodle #GriyaWistara #RuangBerkaryaIbu #Ibu Profesional #MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta #KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu #Proyek2RBI #Day7475

RBI 2: Day 73

Diawinasis M Sesanti Tgk, 23 Juli 2018 #OneDayOneDoodle #SeratWulangreh *A5 *Semiplanned Doodle *BW doodle *Drawing pen 0.2, coloring marker Padatnya aktivitas hari ini membuat saya agak sulit nge-doodling seperti biasa. Jadi doodle hari ini cukup yang sederhana, sekaligus digunakan untuk feature Image di tulisan untuk blog IB. Salah satu tembang favorit, tentang nasehat untuk para penuntut ilmu. #2ndW #OneDayOneDoodle #GriyaWistara #RuangBerkaryaIbu #Ibu Profesional #MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta #KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu #Proyek2RBI #Day73

RBI 2: Day 72

Diawinasis M Sesanti Tgk, 21 Juli 2018 #OneDayOneDoodle #16: Al-Bayyinah *A5 *Semiplanned Doodle *BW doodle *Drawing pen 0.2, coloring marker Handmade itu selalu istimewa. Dia hanya satu-satunya. Sekalipun itu tiruan, sekalipun itu ditiru, tetap saja tak akan pernah sama. Karena ada "alam bawah sadar" yang tersimpan apik di balik coretan. Beberapa hari ini sedang menikmati cerita tentang perang, tentang hikmah, tentang Baginda Rasulullah yang disuratkan dalam sebuah cerita. MasyaAllah, emosi seakan diaduk-aduk seolah turut berada di sana. Bagi saya yang sangat terbatas pengetahuan tentang beliau, sungguh banyak inspirasi dan getaran hati yang tertuang dalam gambar. Allahumma sholli 'ala Muhammad Saw. #2ndW #OneDayOneDoodle #GriyaWistara #RuangBerkaryaIbu #Ibu Profesional #MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta #KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu #Proyek2RBI #Day72

RBI 2: Day 70-71

Diawinasis M Sesanti Tgk, 20 Juli 2018 #OneDayOneDoodle Setelah kemarin sempat tumbang, alhamdulillah hari ini bisa kembali corat-coret. Break sehari, mengisi energi dan inspirasi dengan membaca novel shiroh Nabawi. Ternyata cukup menjadi energi untuk berkarya lagi. Lanjut gambar ke #15: Al-Zalzalah Mood booster untuk berkarya lagi esok. #2ndW #OneDayOneDoodle #GriyaWistara #RuangBerkaryaIbu #Ibu Profesional #MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta #KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu #Proyek2RBI #Day7071

RBI 2: Day 69

Diawinasis M Sesanti Tgk, 19 Juli 2018 #OneDayOneDoodle Melanjutkan doodle kemarin, menambah beberapa pola di sisi atas yang belum selesai. Ternyata eksekusi lebih cepat saat sudah fix konsepnya. Ya, menuangkan ide menjadi konsep dan gambar di kertas biasanya lebih memakan waktu. Jadi saat ada yang menganggap desain itu murah apalagi gratis, coba pikir ulang berapa banyak waktu dan pikiran yang digunakan saat membuat karya. *Ukuran a5 *Semiplanned Doodle *drawing pen 0.2 *doodle bw #2ndW #OneDayOneDoodle #GriyaWistara #RuangBerkaryaIbu #Ibu Profesional #MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta #KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu #Proyek2RBI #Day69