Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

Multitasking

Sepiring nasi putih ditemani ikan asin, tak ketinggalan "blendrang" kecipir dan gude ikut ambil tempat. Para netizen pasti langsung komentar "Kok menunya nggak sehat?". Dan si pemilik piring pun akan menjawab dengan sebuah senyum (sok) bijak. "Tak ada yang lebih lezat daripada masakan di kampung halaman". Tetapi kali ini bukan menu yang menjadi fokus pembicaraan. Ada hal penting lain yang perlu diperhatikan saat makan. Sedang asik membaca cerita di gawai, membuat si empunya piring enggan benar-benar melepas pandangan dari layar.  Sambil mengunyah, ditelan pula baris-baris kalimat yang berada di sisi kirinya. Hati kecilnya sempat ramai berunjuk rasa, "Hei hei.. itu beresiko tinggi! Ini bukan multitasking, ini prokrastinasi namanya!!!".  Mengabaikan suara kebenaran ternyata berakibat fatal. Sebuah duri tersangkut di tenggorokan tepat saat konflik terjadi di novel "cinderella" yang dibacanya. Naas, konflik di dunia nyata ternya

Jam Lima

Seperti hari-hari sebelumnya, rutinitas Ramadhan kali ini kujalani. Memasuki bilangan belasan, semakin banyak daftar menu jajanan yang siap mengisi meja di ruang tamu. Berbanding terbalik dengan jumlah jamaah tarawih yang berguguran satu per satu. Jangan suudzon dulu. Ada yang sedang terima tamu bulanan, pergi ke luar kota, atau sedang menghadiri undangan buka bersama. Intinya mushala tak sepenuh hari pertama. Itu saja. Entah ramadhan kali ini, tak banyak target yang ingin kucapai. Niat hati ingin khatam membaca Qur'an berkali-kali, tetapi melihat senyum sumringah bayi tiap melihat mushaf coklat di tangan seolah membuatku meleleh. Dari jauh ia akan merangkak dengan kecepatan penuh. Meraih tangan dan bahuku, kemudian dilanjutkan menguasai kitab yang kupegang. Mulutnya kecilnya ikut bergumam bahasa planet yang belum berhasil kukuasai. Daripada belajar bahasa bayi, membuat bayi belajar bahasa orang dewasa itu lebih logis. Melihat bayi bahagia dengan mushaf akhirnya membuat

Jalan yang Lurus

Sepanjang sejarah, mudik kali ini adalah perjalanan tercepat Jawa Timur-Jakarta yang pernah kami lalui. Dengan moda transportasi darat, jarak tujuh ratusan kilometer bisa ditempuh sekitar 12 jam. Sudah ditambah berhenti makan sahur dan lainnya. Luar biasa, Armando! Semua ini tak lepas dari capaian pembangunan jalan bebas hambatan atau jalan tol. Mungkin kalau zaman dulu yang mashur jalan besutan pak Daendels yang fenomenal itu. Tak usah disebut lah ya, korban kerja rodi agar jalan sepanjang Anyer-Panarukan bisa dibuat. Kalau sekarang kan sudah ada alat berat, nggak ada korban manusia seperti zaman Belanda dulu. Yang penting ada dananya. Kalau pun masih kredit, semoga bisa segera dilunasi. Kembali lagi ke jalan tol. Kami mulai memasuki tol Madiun jam sepuluh malam. Sebelumnya masih tampak orang-orang duduk lesehan di warung kopi pinggir jalan. Mungkin lelah selesai tadarusan, khusnudhon saja, ini kan Ramadhan. Setelah itu, tak ada lagi keramaian manusia, motor, apalagi t

Tertipu

Tengah hari sudah lewat, tetapi terik matahari masih terasa saat menimpa kulit. Terlebih saat aku berjalan kaki seperti ini. Rasanya seperti mandi keringat di setiap langkah yang kuayun. Tak jauh beda dengan perempuan sebaya di sisiku. Dia menjadi teman bicara membunuh jarak yang tak bisa dibilang dekat saat ditempuh dengan kaki. Kurang dari tiga ratus meter tujuan kami, tiba-tiba sebuah motor berhenti. Seorang lelaki bertanya jalan menuju rumah sakit di ujung jalan besar tadi. Katanya ada saudaranya yang dirawat di sana. "Gang depan belok kiri, ketemu pertigaan belok kanan. Ikuti jalan searah, sebelum pintu tol nanti belok kiri. Rumah sakitnya kelihatan dari jalan", aku mencoba menjelaskan. Tampaknya si lelaki masih kebingungan. Teman perjalananku mencoba menghentikanku dengan colekan di lengan. "Sudah, ayo kita pulang saja.. Tak usah ditanggapi", matanya seolah bicara demikian. Tetapi aku masih belum menyerah. Kata 'rumah sakit' di kepala

Rencana

Setiap orang berhak untuk membuat rencana terbaik menurut versinya. Namun hasil akhirnya tetaplah hak Allah sebagai penentu. Tahun ini rencananya kami menunda rencana mudik ke ibukota. Dengan alasan tahun ajaran baru ini kakak akan mulai sekolah. Sudah menjadi rahasia umum tentang kebutuhan menjelang daftar sekolah. Mungkin bisa diganti akhir tahun atau hari lain, tak harus saat libur lebaran. Kesepakatan pun disetujui bersama. Kemudian kabar baik tentang rencana pernikahan membuat kami mengubah rencana. Siapa yang mau melewatkan momen bahagia sekali seumur hidup. Akhirnya rencana pun diubah. Alhamdulillah, perburuan tiket tengah malam membuahkan hasil. Tiket mudik pulang pergi berhasil didapatkan untuk satu keluarga. Kami pikir, perubahan rencana cukup sekali, dari rencana A ke rencana B. Tetapi ada kabar darurat yang kembali membuat kami merombaknya. Salah satu alasan kami mudik adalah birrul walidaini. Ketika salah satu dari orangtua berpulang ke rahmatullah, kami

Perpisahan

Gadis kecil lima tahun itu mendekatiku. Dari matanya, tampak ingin tahu apa yang sedang dibicarakan orang-orang dewasa di sekelilingnya. Sedari tadi aku sibuk menerima telepon, kemudian menghubungi nomor lain. Hingga jelas kabar diantara tiga tempat yang berbeda. Benar ini dataran tinggi, tapi apa sedemikian cepat kadar oksigen di udara menyusut? Seperti ada yang berat, tiba-tiba membuatku kesulitan bernafas. Tapi aku tak mau menangis, masih ada gadis kecil tadi di sisiku. "Kakek kenapa, Bun?", akhirnya dia pun buka suara setelah sedari tadi mengekor langkahku. "Kakek dipanggil sama Allah...", kupeluk badan kecilnya, mengusap punggung berharap bisa menenangkan diriku sendiri. "Kalau gitu nggak bisa ketemu kakek lagi..", kali ini disertai isakan kecil. Aku sedang memilih kata-kata, seperti gadis yang pertama bertemu kekasih.. Tak ada satupun yang benar-benar pas saat melihat semua koleksi baju di lemari. "Nggak papa.. Sudah waktun

Pulang

Selepas buka puasa, ada telepon dari ibukota. Kakek nenek sedang rindu cucu-cucunya, tadi siang sang ayah sempat menyinggungnya. Si bayi ikut menyimak suara, mendekat ke layar. Biasanya ia ikut berekspresi, tapi kali ini ia tampak heran mungkin tak ada wajah si penelepon di seberang sana. Berganti panggilan video, ia pun ikut berbincang dengan bahasa planet yang ia bisa. Si sulung berlarian sambil sesekali melihat ke layar. Pembicaraan pun selesai, sebentar lagi adzan isya' tiba. Usai tarawih, kembali datang telepon dari nomor yang sama. Kuperiksa telingaku sekali lagi, kupikir ini tangisan si bungsu yang baru saja jatuh. Tapi rupanya tawa yang tadi hinggap berganti air mata. Ibu mertuaku yang kali ini bicara, mencari putranya yang sulit dihubungi. Segera kusambar telepon pintar di meja bawah, tak butuh waktu lama tersambung juga. Kusampaikan kabar bapak mertua yang tiba-tiba kolaps selepas ceramah di mushola. Kumatikan semua sambungan teleponku. Memberi kesempatan bicara

Jahiliyah

"Sholawat serta salam, semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad saw. Yang telah menuntun kita dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah." Hampir setiap pembukaan acara, kalimat ini selalu diucapkan. Namun makna "jahiliyah" yang dimaksud masih saja menjadi pertanyaan besar bagi saya pribadi. Kebodohan tidak paham baca tulis kah? Tetapi bukankah masyarakat Arab "jahiliyah" masa itu terkenal dengan bahasanya, menyukai syair, dsb. Jadi apa maksud dari "jahiliyah" sebenarnya? Saat membaca buku tentang shiroh Nabi Muhammad saw bersama ananda, terdapat satu bagian khusus tentang masyarakat Arab jahiliyah sebelum datangnya Islam. Dari sini saya pun mulai menangkap berbagai perilaku jahiliyah yang dimaksudkan.  Dimulai dari berbeloknya akidah masyarakat, tidak lagi sesuai dengan yang dibawa para Nabi sebelumnya. Baik karena pengaruh penguasa (Persia dengan Majusi, Romawi dengan Nasrani), agama yang dibawa pendatang (Yahudi), mau

Angkutan Umum

Kuhentikan mobil hijau dengan pelat kuning yang melintas. Seorang lelaki membukakan pintu. Aku masuk dan mengedarkan pandangan, berharap masih ada kursi kosong tersisa. Beruntung, ada satu tempat meski harus berdesakan dengan penumpang yang sudah naik sebelumnya. Rombongan anak dengan seragam biru putih turun. Tak lama, remaja berseragam abu-abu putih menempati tempat kosong tadi. Aku memilih berpindah ke sebelahnya. Menghela napas lebih panjang terbebas dari penjara tempat duduk sebelumnya. Lebih tepatnya kurang nyaman karena duduk berdekatan dengan kakak tingkat. Belum lagi supporter "cie-cie" di sebelahnya. Beberapa meter dilewati, seorang bapak-bapak yang sudah berumur naik. Sebuah tas anyaman dipangkunya dengan hati-hati. Samar terdengar suara ayam, meskipun bukan kokok melengking seperti bunyi yang kudengar subuh tadi. Aku masih merapal doa, semoga tak ada kotoran yang keluar selama beliau duduk tepat di sebelahku. Belum sempat aku bernapas lega saat bap

Hadiah Kejutan

"Bun, ada tamu", lapor si sulung untuk kali kedua di hari ini. "Siapa? Bapak-bapak apa ibu-ibu?" tanya sang ibu. "Hemm.. Bapak-bapak". Tampaknya sang tamu sudah lama di depan, berkali-kali memanggil pemilik rumah namun tak ada jawaban. "Saya panggil-panggil dari tadi nggak kedengeran ya, Bu?", petugas pengantar paket itu tampak protes. Mau bagaimana lagi, setelah ashar di bulan Ramadhan seperti ini adalah jam sibuk bagi para ibu. Mungkin sebelas dua belas dengan pekerjaan si bapak kurir. Bukankah ekspedisi luar biasa sibuk di waktu-waktu semacam ini? Orang-orang mungkin sedang berlomba mengirinkan kebaikan ke penjuru dunia. Memeriksa dua bungkusan yang baru diterima. Satu paket memang telah dinanti, sementara yang satu lagi milik siapa? Alamat yang tertera sama, namun berasal dari pengirim yang berbeda. Tak butuh waktu lama melepas selotip bening di bungkusnya, ternyata isinya sepasang batik sarimbit. Lalu ini milik si

Basi

Makanan memiliki masa tertentu untuk layak dikonsumsi. Untuk makanan kemasan, cukup cek tanggal kedaluarsa yang tertera di kemasan. Sementara makanan tanpa pengawet yang basi bisa dikenali dari rasa, bau, atau warna yang mulai berubah. Misalnya muncul jamur, bau menyengat, berubahnya warna serta tekstur, dsb. Tetapi tak semua yang berjamur tak layak konsumsi. Justru ada sederet daftar menu makanan "berjamur" yang lezat dan bergizi. Sebut saja tempe, oncom, dan makanan hasil fermentasi lainnya. Justru tempe akan tetap berwujud kedelai saat tak ada jamur yang menyelimuti. Indikator bau menyengat justru muncul dari si lezat durian, nangka, dan sejenisnya. Jangan ditanya, para penggemar durian tak akan meragukan kelezatan rasanya. Tetapi wangi aroma durian matang tentu berbeda dengan durian busuk. Bicara soal tekstur, makanan basi biasanya lebih lembek daripada makanan yang bisa dikonsumsi. Tapi jangan lupakan menu bubur (bubur nasi atau bubur kacang hijau misal

Flash

Saat berada di jaringan internet gratis seperti ini, mudah sekali mengunduh file berkapasitas besar. Tak seperti biasanya, terkena sapu bersih clear chat  sebelum sempat dibuka. Kapan hari, sebuah video saya terima di salah satu grup perpesanan. Tentang jamaah yang sedang sholat tarawih dengan imam berkecepatan penuh. Shinkansen pun kalah sepertinya. Hanya terdengar suara takbir menandakan saatnya berganti gerakan, sementara bacaan lainnya tak bisa tertangkap oleh telinga. Urusan ibadah memang menjadi urusan masing-masing dengan Tuhannya. Apakah itu bisa diterima atau tidak, soal niat, tuma'ninah, dan sebagainya biarlah ditanggung pelakunya. Tetapi mengingatkan yang benar kepada diri sendiri dan keluarga itu wajib. Saya juga tahu diri, masih banyak cacat di setiap ibadah yang saya lakukan sehari-hari. Sholat sambil memastikan bayi masih aman di radar, atau tiba-tiba mode flash pun digunakan saat bayi mewek tanpa alasan. Yang pasti lelah yang bersedia menguliti aib say

Baju Baru

Memasuki usia 11 bulan, baju-baju di lemari mulai tak lagi muat di tubuh si nomor dua. Celana yang meninggi, pusar yang tak lagi tertutup kaos, atau kancing baju yang mudah lepas dari lubangnya. Tak sekedar ingin, sepertinya outfit lama memang butuh di-upgrade. Meskipun baru awal bulan Ramadan, godaan baju baru sudah mulai menyapa. Mulai dari media sosial, marketplace, hingga toko pinggir jalan saling berlomba memberikan potongan harga. Fitrah estetika mulai bicara dihadapkan pada gamis merah berenda, tunik biru berpita, juga hijab ungu untuk balita. Aduhai, pasti cantik sekali saat gadis kecil memakainya. Oiya, jangan lupa perempuan di rumah ada dua. "Dua atau tiga?", pasti pak suami akan menyahut seperti ini. Baiklah, sepertinya tak masalah jika memang untuk kebutuhan. Setengah lusin kaus dalam masing-masing untuk adik dan kakak akhirnya terbeli. "Ini kebutuhan", tanpa rasa bersalah akhirnya laporan transaksi pun masuk ke pesan masuk. "Kok cum

Sisa Konsumsi

Hari-hari menjelang pesta demokrasi bulan lalu, hampir setiap sudut jalan dan tempat umum dipenuhi gambar-gambar partai serta caleg yang sedang melakukan uji peruntungan lima tahunan. Entah berapa rupiah yang dikeluarkan untuk banner ini saja. Yang pasti ada rezeki percetakan dan tukang desain di baliknya. Sehari sebelum pemilihan, alat peraga kampanye di jalanan itu lenyap. Konon sudah ada aturan pencopotan. Luar biasa ya, mereka yang bertanggungjawab memasang sekaligus menurunkan baliho-baliho sebesar rumah. Tentu saja tugas ini disempurnakan petugas dari bawaslu yang membersihkannya hingga tak bersisa. Lalu kemana perginya banner-banner itu? Konon ada sebagian yang berpulang ke tukang loak, berganti wujud menjadi recehan rupiah. Ada juga yang beralih fungsi menambal dinding warung yang mengelupas. Tak mau rugi, ada juga yang memakainya menjadi alas piknik keluarga saat ke pantai atau taman di musim liburan. Ide liar di kepala pun tak mau kalah. Pasti lebih puas jik

Tarawih

Ramadan tiba, biasanya para pemburu pahala sudah mulai kejar target. Siapa yang tidak mau melewatkan pahala dari amalan dhohir dan batin yang kualitas dan kuantitas "outstanding" dibandingkan hari biasanya. Mulailah disusun planner dari menu sahur-buka puasa sebulan, hingga cecklist untuk amalan harian. Tetapi semua rencana tak selalu berjalan mudah, ada PR bagi ibu yang masih memiliki bayi dan atau balita. Bulan hijriyah dimulai dari matahari terbenam, artinya sholat tarawih lah yang bisa mulai dikerjakan setelah sholat maghrib-isya. Harapan ibu, anak-anak anteng kemudian ibu bisa ikut jamaah dari awal hingga selesai. Tapi bukankah surga memang tak semudah itu diraih? Selalu ada tantangan bagi ibu termasuk dalam hal beramal di bulan mulia. Bayi sepuluh bulan itu pun girang luar biasa ketika mushola masih kosong. Dengan gelak tawa ia merangkak berkeliling karpet hijau yang digelar rapi. Kemudian satu per satu jamaah mengisi tiap barisan. Si bayi yang baru mudik, mul

Bintang

Malam ini langit begitu cerah. Di atas sana terhampar makhluk bercahaya. Dari sini mereka terlihat jelas karena tak banyak pesaing lampu-lampu pabrikan. Suara jangkrik dan binatang malam bersahutan menjadi musik pengiring yang merdu. Meskipun tanpa termometer, kurasakan hawa yang lebih dingin dari biasanya. Tampaknya suhu udara berbanding terbalik dengan ketinggian tempat kami berpijak.  Suasana pegunungan memang begitu romantis. Meski sebagian besar orang memilih tinggal di kota yang konon semua ada. Rasanya desa yang lebih pantas congkak pada hiruk pikuk perkotaan. Jauh dari mall dan pusat perbelanjaan yang memfasilitasi belanja ugal-ugalan. Tak ada bisingnya roda kendaraan yang mengeruk energi ibu bumi habis-habisan. Meski samar-samar masih terdengar suara musik pengantar hajatan sebelum bulan Ramadhan datang.  Celoteh si sulung memotong kesibukanku menikmati semesta, "Wah.. Di sini ada bintang.. Itu bintang.. Itu lagi.. Banyak!". "Iya dong.. Siapa