Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

TANTANGAN 8.17

TANTANGAN 8.17 Mlg, 30 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) "Ya Allah, Farza mau bakso", doanya sambil naik motor pulang dari rumah bunda Mei tadi siang. Terlihat wajah sumringah sambil sedikit memgantuk karena ikut ayah bunda pergi sejak pagi. Apakah kali ini doa ananda terwujud? Ya, karena kebutuhan. Ini jam makan siang ananda, bunda belum masak karena keluar rumah sejak pagi. Meskipun sebenarnya ada faktor X juga, entah kenapa malas masak pagi saat puasa . 😅 Sepertinya perlu banget masuk kelas buncek agar expert soal manajemen dapur dan manajemen waktu. Belajar tentang konsep rejeki bersama ananda yang berusia 3 tahun, banyak-banyak menjadi pengingat diri bahwa Allah Maha Kaya, Allah mengatur rejeki kita dengan sangat rapi. Kami lah yang banyak berkaca akhirnya: yang perlu diingat tentang darimana dan untuk apa, bukan berapa banyak. Banyak sedikit itu relatif. Tapi keberkahan seolah tak terhingga. Berbicara soal konsep rejeki, sepertinya be

TANTANGAN 8.16

TANTANGAN 8.16 Mlg, 29 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) Selepas maghrib kemarin, ananda ikut berdoa sambil dipangku bunda. Setelah membaca doa yang biasanya, kali ini bunda mencoba bertanya pada ananda, "Berdoa itu minta sama Allah, Farza mau minta apa sama Allah?" Muka ananda serius, membayangkan sesuatu yang pasti spesial baginya. "Farza mau permen bulat.. yang ada tusuknya.. Rasa stroberi.. Buat dijilat". Wah, ini masuk list keinginan sepertinya, bukan kebutuhan. Ananda memang jarang sekali makan permen, sekalinya makan saat pergi ke rumah mbah Yut beberapa waktu yang lalu. Ternyata ini menjadi sebuah pengalaman yang spesial baginya. Permen memang bukan kebutuhan, tapi ada hal penting di sini yang bisa didapat saat memenuhi keinginan ananda. Mengaitkan konsep rejeki sekaligus menyemai fitrah keimanan ananda. Bahwa Allah yang mewujudkan doa-doa, Allah yang mengatur dan memberi rejeki bagi setiap makhlukNya. Benar saja, pagi tad

TANTANGAN 8.15

TANTANGAN 8.15 Mlg, 28 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) Membuat media belajar DIY Membuka kembali cecklist indikator tumbuh kembang ananda, ada banyak PR di usia 3-4 tahun ini. Setelah lama break, bunda coba lagi membuat beberapa mainan bermodal nyontek tutorial di buku. Kami memilih aktivitas yang semua bahan tersedia di rumah, jadi kami tak perlu membeli. Ananda semangat dan penasaran menunggui hingga selesai. Tak sabar, langsung dimainkannya kancing-kancing dan flanel bentuk warna-warni tersebut. Kali ini kami latihan lagi motorik halusnya memggunakan kancing baju ukuran sedang. Karena sudah terlihat lancar, selanjutnya perlu dicoba membuat dengan kancing ukuran lebih kecil. Lalu apa hubungannya dengan cerdas finansial? Membuat berbagai mainan/media belajar DIY merupakan favorit saya. Tak perlu mengeluarkan dana berlebih, namun stimulasi tetap bisa dilakukan sesuai dengan tujuan yang dibutuhkan. Memang penting membedakan mana kebutuhan dan mana ke

Tantangan 8.14

TANTANGAN 8.14 Mlg, 27 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) Sore ini kami mengobrol selepas maghrib. Masih seputar rejeki bagi anak usia 3 tahun. Bercerita tentang tadi pagi, tiba-tiba mengekor ayah yang akan membeli galon air minum. "Farza ikut.. Tunggu ayah..". Kemudian saat pulang, matanya berbinar sambil membawa 2 coklat pasta. "Beli dua bun." Kata ayah, sedari berangkat ananda bilang "Mau beli galon, sama beli apa yaa??". Ananda memang belum bisa membeli sendiri, biasanya ananda akan bilang pada Ayah/Bunda apa yang diinginkannya. Bunda pun memulai pembicaraan tentang membeli sesuatu, ananda mulai paham jika butuh uang untuk bisa bertransaksi. Nah, jawaban nano-nano pun muncul ketika ditanya asal uang. "Dari dompet bunda", "dari dikasih Kakung buat beli kaos Tayo", "Dari uang ayah". Baru setelah itu mulai masuk konsep rejeki, semua dari Allah. Allah memberi lewat beragam jalan, salah satunya d

Cemilan Rabu 8.3

🍞*Cemilan Rabu #8.3* 🍦🍪🍰 Ajari Mengelola Keuangan Untuk Anak Sejak Dini 💵 Mengelola keuangan untuk anak itu sangat penting sekali karena segala kebiasaan dan perilaku orang dewasa terbentuk di masa kanak-kanak. Termasuk masalah keuangan banyak orang yang tidak dapat mengelola keuangan dengan baik bukan karena gajinya kecil tetapi karena memang sejak kecil tidak dibiasakan untuk mengelola uang dengan benar. Ayo jujur kalau saat ini kita punya masalah keuangan, itu terjadi karena memang gaji kita yang kecil atau ada cara mengelola keuangan kita yang kurang baik ? Hehehe. ⏳Kapan anak dikenalkan dengan uang ? Sejak usia dini yaitu usia 3 tahun seperti yang saya kutip dari Money As You Grow Saat anak usia 3-5 tahun paling tidak  anak sudah dikenalkan dengan mentalitas keuangan yang benar yaitu : -Kita membutuhan uang untuk membeli barang. -Kita harus bekerja untuk menghasilkan uang. -Kita harus menunggu sebelum bisa membeli sebuah barang. -Bisa membedakan mana kebutuhan dan mana

TANTANGAN 8.13

TANTANGAN 8.13 Mlg, 26 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) "Allah yang menciptakan, menghidupkan, mengatur REJEKI, serta mematikan kita." Bertemu dengan surat cinta yang menegaskan bahwa memang rejeki itu sudah pasti, ada yang mengatur dan tinggal kita mau atau tidak mengikuti aturanNya. Sekali lagi, menjadi pengingat diri yang lebih banyak lupanya. Karena sekarang statusnya bukan lagi single, maka rejeki itu milik serumah. Kami tidak tahu apakah yang banyak itu untuk ayah, untuk bunda, atau sebenarnya semuanya milik ananda. Maka belajar memenuhi kebutuhan setiap anggota keluarga menjadi prioritas. Berikutnya baru sebagian keinginan yang masih bisa dipenuhi dapat dipakai sebagai latihan untuk bersabar, tidak semua bisa serta merta terwujud. Misalnya ananda yang meminta membeli coklat pasta pagi ini, "mau beli 2", katanya. Tapi ananda harus belajar sabar, kami pergi ke splendid terlebih dulu. Gantian bunda yang penasaran dengan tanaman,

TANTANGAN 8.12

TANTANGAN 8.12 Mlg, 25 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) Pagi ini ananda bangun lebih pagi dari biasanya. Saat bunda ganti kostum keluar rumah, si kecil pun tak ketinggalan. "Mau ganti yang baju panjang.", kemudian tak ketinggalan dipilihnya kerudung ungu dan dipakainya sendiri. Mau kemana kita? Membeli sayur ke bawah. 😂 Pak sayur sudah stand by sejak subuh tadi, tapi bunda biasanya menunggu agak terang agar lebih mudah memilih sayur. Seperti biasa si kecil pasti kepo ikut memilih sayur, "Ini apa bun? Kok tomatnya gini? Belum mateng?", sambil memungut satu tomat hijau. Bunda yang sibuk memilih sayur pun tertawa, itu tomat yang memang dijual hijau. Dan kali ini spesial bagi ananda memilih sayur yang disukainya, terpilihlah brokoli, wortel, dan sawi. Kemudian ananda bunda minta memilih lauk, "Mau ikan lele atau udang?" "hemm.. Ikan lele.", katanya . Tapi di sebelah lele ada mujaer, dan galau lah si anak "kela

TANTANGAN 8.11

TANTANGAN 8.11 Mlg, 24 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) Apa yang kami pelajari tentang cerdas finansial di hari ini? Sepertinya biasa bagi orang lain, tapi spesial bagi kami. Hari Ahad pagi ini kami jalan-jalan di CFD. Ananda mengamati sekumpulan kakak-kakak yang membawa buah-buahan, rupanya ada demo tentang pentingnya pangan lokal. Menengok bekal kami hari ini, ada jambu biji yang merupakan pangan lokal. Wah, pas banget nih! Pangan lokal memang lebih sehat, menurut Prof Sukoso saat mengisi materi Sekolah Ibu dulu: makanan terbaik itu yang hidup dan diolah di tempat sekitar kita tinggal. Selain itu, saat kita mengonsumsi pangan lokal berarti perekonomian warga lokal ikut tumbuh. Tentu kita lebih bangga dengan pangan dan produk olahan di sekitar kita. Mungkin karena kebiasaan juga, makanan buatan rumah yang dibuat dengan cinta akan lebih lezat sekalipun itu hanya makanan sederhana. Dan tentu saja ini salah satu cara untuk mengendalikan budgeting keluarg

TANTANGAN 8.10

TANTANGAN 8.10 Mlg, 23 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) "Beli eskrimnya jangan 2, beli buat ayah bunda sama Farza.", sambil mewek di gendongan. Karena bunda tidak bawa uang lebih, jadi negosiasi pun dilakukan. "Bunda nggak bawa uang banyak, tapi boleh beli 2. Mau rasa apa?" Akhirnya kami membeli 2 es krim, rasa coklat dan jagung menjadi pilihan si kecil. Belajar cerdas finansial juga nih, jangan sampai memaksakan jika memang tidak membawa uang nanti jadi "besar pasak daripada tiang" . Tak biasanya ada drama mewek+gendong-gendong. Ada apa??? Jadi ceritanya hari ini jadwal imunisasi di posyandu. Karena nakes-nya belum datang, jadi kami jalan-jalan dulu di dekat sungai. Wah, ada mas-mbak yang sedang belajar di sungai. Karena di seberang, kami jadi tidak bisa bertanya mereka belajar apa. Yang jelas si kecil berbinar melihat ada yang mbak-mas mengambang mengikuti aliran sungai sambil memeluk tas ranselnya. Dan tentu tak ketingg

TANTANGAN 8.9

TANTANGAN 8.9 Mlg, 22 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) Tok tok.. Terdengar suara dibalik pintu. Ternyata ada pak satpam mengantar paket. Sepertinya bunda tidak sedang belanja online, tapi benar ada nama bunda sebagai penerima di sana. Si kecil pun langsung penasaran, "apa itu, Bun?". Taraa..ternyata ada yang cantik di baliknya. Alhamdulillah rejeki datang dari #SpesialisPortofolio untuk ananda dan bunda. Terimakasih. Ini hadiah giveaway beberapa waktu yang lalu, bahkan bunda lupa pernah ikutan. Memang rejeki itu sudah pasti, tanpa perlu diuber-uber bisa mendarat cantik di depan pintu. Langsung saja kita pasang sampul BPA yang cantik ini. Si kecil yang penasaran langsung buka tutup bukunya, melihat-lihat isi gambar di sana. Sepertinya ini jadi penyemangat untuk istiqomah mengikat makna, rajin menulis setiap harinya. Lalu apa hubungannya dengan cerdas finansial? Tentu konsep rejeki begitu mengena di sini, khususnya bagi saya pribadi. Bahwa All

TANTANGAN 8.8

TANTANGAN 8.8 Mlg, 21 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) "Darimana dan untuk apa" adalah pertanyaan LPJ-an kita kelak saat berkaitan dengan rejeki. Maka menelusuri darimana sumber rejeki kita, serta pos-pos yang digunakan pun menjadi penting. Cuma dua, "darimana?" dan "untuk apa?" tapi pertanggungjawabannya bisa panjang. Kita tidak ditanya: berapa uangmu, berapa rumahmu, bajumu beli di mall atau di loakan, makanmu di kakilima atau hotel bintang lima? Maka belajar konsisten mencatat sumber dan pengeluaran menjadi tantangan tersendiri bagi saya pribadi. Masih dengan jalan-jalan, dengan "ilmu titen" ala-ala saya: ini menjadi salah satu aktivitas "suka+bisa" Griya Wistara yang tak bisa ditinggalkan. Karena dari sini kami belajar banyak hal, baik travelling jarak dekat maupun jauh. Baik yang butuh perencanaan matang maupun yang langsung berangkat. Tentu saja tetap dibutuhkan perencanaan budget setiap kali me

CAMILAN RABU 8.2

🌭🍟🍷 *Cemilan Rabu #8.2* 🍫🍨🍿 *Melatih Anak Cerdas Finansial Sejak Dini Dapat Menjadi Bekal Yang Berharga di Masa Depannya.* Di tengah arus kompleksitas perubahan zaman dan gemuruh publikasi korupsi negeri ini, orang tua dituntut lebih cerdas mendidik anaknya. Tentunya kita tidak sudi melihat anak tumbuh sebagai koruptor yang menyengsarakan. Dari situ, selain membesarkan anak yang sehat secara fisik dan emosional, orang tua juga wajib mendidik anak secara benar. Karena, mendidik anak bukan berarti mengabulkan setiap keinginannya. Tetapi, bagaimana orang tua mampu memberi teladan dan mengenalkan anak segala akhlak terpuji, terutama pengajaran kecerdasan finansial. Maraknya lalu lintas rayuan iklan di segala media bisa mendikte anak menjadi pribadi yang konsumtif dan hedonis. Namun, orang tua tak perlu khawatir, ketika anak sejak dini sudah dilatih kecerdasan finansialnya. Maka hasilnya, anak akan menjadi pribadi yang tangguh dan cermat dalam mengelola uang. Di sinilah, peran

TANTANGAN 8.7

TANTANGAN 8.7 Mlg, 20 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) "Orangtua adalah teladan untuk mengajarkan anak cerdas finansial sejak dini.", begitu kutipan "Camilan Rabu" di materi kelas Bunsay hari ini. Seperti tercubit? Tidak, hanya tertampar. Tapi memang begitulah fitrahnya, anak-anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada yang didengarnya. Bagaimana jika kami orangtuanya belum baik di hal tersebut? Pilihan terbaik adalah ikut belajar, ikut bertumbuh, ikut memperbaiki diri. Bukankan niat baik saja dicatat satu kebaikan? Apalagi jika niat tersebut dilaksanakan menjadi amal perbuatan, Hak Allah lah untuk memberi berapa kali lipat nilai kebaikan di sana. Bagaimana jika awalnya niat kita, "ah sudahlah nggak usah belajar", bisa jadi kita masih punya kesempatan mendapat 1 kebaikan jika niat tersebut tak jadi dilakukan dan kembali ke "jalan yang benar" melakukan amal kebaikan untuk menjadi mulia. #HaditsArbain37

TANTANGAN 8.6

TANTANGAN 8.6 Mlg, 19 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) Semua team Griya Wistara punya aktivitas favorit yang sama, outing. Tak peduli jauh atau dekat, sudah pasti tak ada yang menolak. Kali ini kami habiskan waktu untuk "ngobrol dan main bareng" di Taman Slamet. Ada banyak ruang terbuka yang ramah anak di kota Malang tanpa perlu takut terjadi kebocoran pada budget keluarga. Kami bukan anti jalan-jalan ke mall atau tempat sejenis, namun saat memang ada yang perlu dibeli dan hanya di sana bisa didapatkan. Namun tak jarang jalan-jalan ke tempat demikian lebih banyak godaan terhadap keinginan, alias laper mata. Maka pergi ke taman dan ruang terbuka lebih kami pilih sambil belajar mengamati alam sekitar. #KebutuhanVsKeinginan Setelah lelah lari-lari, ananda haus dan ingin membeli minuman (karena tadi lupa tidak membawa dari rumah). Saatnya konsep tentang jual beli masuk di sini. B: "Farza tadi beli apa?" F: "Minum sama cilok 2

TANTANGAN 8.5

TANTANGAN 8.5 Mlg, 18 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) Saat membuat coretan catatan kegiatan ananda sehari-hari, ananda ikut bergabung dan tentu saja ikut "membaca" aktivitasnya. Biasanya bunda membuat coretan ilustrasi agar ananda ikut menikmati saat membuka-buka catatan aktivitasnya ini. "Kalau sudah libur, insyaAllah nanti Farza ke Nggalek ya..", katanya saat melihat foto Kakung. Saatnya menjelaskan, bahwa bepergian itu naik mobil kita beli tiket. Bayarnya pakai uang, sehingga kita perlu berdoa minta rejeki pada Allah, agar Allah memberi rejeki diantaranya lewat bekerja dan menabung. "Kalau beli kaos tayo pakai uang? Kaos Tayonya belum datang ke Malang, masih di jalan naik bis", kembali ananda mengingat keinginannya kemarin. 😂 Alhamdulillah ananda masih tergolong wajar saat menginginkan sesuatu, tinggal bagaimana cara memberi pengertian ada yang bisa langsung dipenuhi, ada pula yang harus sabar menunggu. *** Bahwa :

TANTANGAN 8.4

TANTANGAN 8.4 Mlg, 17 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) Masih belajar tentang cerdas finansial, setelah menonton video Tayo tiba-tiba ananda bertanya: "Bun, kaos Tayo-nya sudah ada?" Rupanya ananda ingat lagi keinginannya kemarin. Menjelaskan belajar sabar untuk balita ternyata menjadi tantangan tersendiri. Tetapi alhamdulillah dengan bahasa sederhana, ananda cukup paham bahwa tidak semua hal dapat diwujudkan serta merta saat ini. Ada proses untuk mendapatkan suatu barang. "Ayah kerja dulu, terus beli kaos Tayo", katanya. Muncul lagi godaan terbesar untuk ananda. "Farza mau baca buku mobil, bun", katanya merengek ingin saat melihat anak lain membeli buku. Karena ananda kemarin ingin kaos tayo, jadi ananda belajar menahan diri untuk tidak membeli buku kali ini. Padahal mah, bundanya juga pengen beli-beli semua. Kita belajar menahan diri ya, Nak. Kita cukupkan yang menjadi kebutuhan, baru memilah untuk keinginan. #Kebutuha

TANTANGAN 8.3

TANTANGAN 8.3 Mlg, 16 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) * Kebutuhan Vs Keinginan * Ada salah satu tontonan favorit ananda, bis-bis yang bisa bicara: Tayo dan teman-temannya. Meskipun anak perempuan, si kecil senang sekali main mobil-mobilan kecil ini. Sambil bercerita (pretend play), ananda membuatkan "garasi" dari block lego, mengangkut si bis dengan "pesawat", dsb. Kadang ananda bereksplorasi out of the box: si kecil mencoba berdiri di atas mobil-mobilan. Wah, sepertinya perlu dijelaskan untuk merawat barang-barang yang sudah dimiliki. B: "Mainannya dirawat ya, kalau dinaiki bisa rusak. Farza masih mau main kan?" F: "Mau.." B: "Ini dulu dibelikan ayah, jadi jangan dirusak. Ini juga rejeki, siapa yang kasih rejeki buat Farza?" F: "Allah" B: "Alhamdu.." F: "Lillah.." #AsalRejeki #MerawatRejeki Ayah yang sedang browsing gambar Tayo, menemukan kaos Tayo. Sudah pasti si

TANTANGAN 8.2

TANTANGAN 8.2 Mlg, 15 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. ( 3y2 m) * Konsep Rejeki: Allah Yang Maha Kaya bisa Memberikannya Lewat Jalan Mana Saja * Untuk menjelaskan hal ini, tentu lebih mudah ketika anak-anak melihat "real" atau yang benar-benar terjadi dan bisa dilihatnya. Sepemahaman ananda, saat ingin beli sesuatu maka minta uang ke ayah atau bunda. Setelah ngobrol kemarin, bunda coba perbaiki bahwa saat ingin sesuatu berdoa pada Allah Yang Maha Kaya. Rasanya seperti mengingatkan diri sendiri, membuang jauh rasa khawatir dan kurang bersyukur dengan apa yang sudah pasti dariNya. Kemarin ananda ikut ayah bunda "sambang" ke tempat kakung diklat, masih bisa dijangkau dari rumah. Tak hanya Kakung yang kangen, si "kelas tiga" pun nempel mengikuti kemana pun Kakung pergi. Lebih seru lagi mengamati berbagai tanaman di sekitar gedung, ada pohon nangka yang buahnya lebaaat sekali, ananda yang penasaran ikut memegang. Ada juga pohon pepay

Tantangan 8.1

TANTANGAN 8.1 Mlg, 14 September 2017 Diawinasis M. Sesanti & Farzana A.W. (3y2m) Mengajarkan anak untuk cerdas finansial sejak dini ternyata sangat menantang. Tentu menjadi fitrahnya anak-anak suka belajar apa saja, tapi tantangan lebih bagi orangtua bagaimana mewujudkan "teladan" dalam keseharian. *Belajar menjadi teladan* Learning by sharing, dengan membawa materi #8 Kelas Bunda Sayang ke family forum. Hingga lahir keinginan untuk bersama memperbaiki manajemen keuangan di Griya Wistara. Cara Allah yang "berbeda" memberikan rizki pada keluarga ini, tentu ada maksud di baliknya. Maka belajar bertanggungjawab atas srbagian rejeki inilah yang pertama kami lakukan sebagai orangtua sebelum bisa mendampingi anak cerdas finansial. Ternyata banyak yang perlu dibenahi, dan pasti tak bisa dilakukan sendiri. *Belajar konsep rejeki lewat percakapan & pengalaman* Ananda diam berdiri menunggu bunda selesai berdoa. Tiba-tiba ananda dengan semangat bercerita yang ba

MATERI 8 MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI

_Institut Ibu Profesional_ _Kelas Bunda Sayang sesi #8_ *MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI* *_Apa itu Cerdas Finansial?_* Menurut para ahli cerdas finansial adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan mengelola keuangan. Apabila disesuaikan dengan konsep di Ibu Profesional bahwa uang adalah bagian kecil dari rejeki, sehingga dengan belajar mengelola uang artinya kita belajar  bertanggungjawab terhadap bagian  rejeki yang kita  dapatkan di dalam kehidupan ini. *_Apa pentingnya cerdas finansial ini bagi anak-anak?_* Di dalam Ibu Profesional kita memahami satu prinsip dasar dalam hal rejeki yaitu, _Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari_ Ketika anak sudah paham konsep dirinya, maka kita perlu menstimulus kecerdasan finansialnya agar : _Kemuliaan Anak Meningkat_ dengan cara : a. Anak paham konsep harta, bagaimana memperolehnya dan memanfaatkannya sesuai dengan kewajiban agama atas harta tersebut. b. Anak bertanggungjawab atas pengelolaan keuangan sendiri

MATERI 7 SEMUA ANAK ADALAH BINTANG

_Institut Ibu Profesional_ _Kelas Bunda Sayang sesi #7_ *SEMUA ANAK ADALAH BINTANG* Anak-anak yang terlahir ke dunia merupakan anak-anak pilihan, para juara yang membawa bintangnya masing-masing sejak lahir. Namun setelah mereka lahir, kita, orang dewasa yang diamanahi menjaganya, justru lebih sering “membanding-bandingkan” pribadi anak ini dengan pribadi anak yang lain.   *BANDINGKANLAH ANAK-ANAK KITA DENGAN DIRINYA SENDIRI, BUKAN DENGAN ANAK ORANG LAIN* Jadi kalimat yang harus sering anda keluarkan adalah, ✅ “ *Apa bedanya kakak 1 tahun yang lalu dengan kakak yang sekarang?*" bukan dengan kalimat ❌ “Mengapa kamu tidak seperti si A, yang nilai raportnya selalu bagus?” ❌ ”Mengapa kamu tidak seperti adikmu?” Kita, orang dewasa yang dipercaya untuk melejitkan “ _mental jawara_” anak, justru lebih sering memperlakukan mereka menjadi anak rata-rata, yang harus sama dengan yang lainnya. *MEMBUAT GUNUNG, BUKAN MERATAKAN LEMBAH* _Ikan itu jago berenang, jangan habiskan hari-h