Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2019

Prolog: Bulan Madu Selalu Manis?

Ada banyak banget cerita yang bisa dibaca di wattpad, tapi suka keder duluan mau baca yang ini atau yang itu. Dan menemukan cerita yang menarik itu ibarat menemukan jarum di tumpukan jerami. Siapa tahu di luar sana ada yang juga suka bingung kaya saya. Baiklah, netizen... Saya bagi satu judul favorit berikut. Salah satu author yang tulisannya sering saya tunggu, NesriBaidani . Salah satunya Bulan Madu yang terdiri beberapa bagian, pas banget kalau mau baca cerbung yang nggak terlalu panjang. Bagaimana kisahmu bertemu jodoh? Butuh masa PDKT bertahun-tahun hingga yakin "dia yang kucari selama ini" atau seperti Haikal yang hanya butuh waktu sekejap, sepanjang kisah Nabi Yusuf yang dikisahkan seorang guru TK? Klise sekali, apa iya di dunia nyata ada yang seperti ini? Tapi jangan underestimate dulu, cerita cinta setiap orang pasti istimewa. Berhubung saya sudah membaca beberapa karya bunes, harus diakui di Bulan Madu ceritanya cenderung flat. Ada manis-manisnya juga s

Sillage: Romatisme Susu dan Kacang Hijau

Apa kegiatan me time  favoritmu? Yang suka baca wattpad mana suaranya? Sebelum membahas cerita dari kinkaa  ini, dari judulnya sudah pengen buru-buru di-klik. Berhubung saya tidak begitu akrab dengan bahasa asing, catatan penulis cukup membantu. Ingat ya, cara bacanya " Si-Yaz " bukan "si-lads" apalagi "si-la-ge". Jika di kisah dongeng, menikah adalah akhir bahagia, di sini pembaca disuguhi pernikahan sebagai awal konflik yang dialami para tokoh. Dimulai dari perjodohan dua manusia dengan perbedaan profesi, isi kepala, dan jenis kelamin tentunya. Tetapi dari awal saya haqqul yakin Ibram-Alina akan menemukan chemistri meskipun awalnya sama-sama beku. Darimana bisa menyimpulkan sebelum membaca sampai akhir? Karena kedua keluarga mempunyai value yang sama, keluarga tentara. Ditambah cerita bahwa keduanya sama-sama anak yang berbakti pada orangtua, nusa dan bangsa. Tapi apa benar kisah ini happy ending ? Lebih seru membaca langsung, kata mbak Step

Upacara

"Assalamualaikum, Mama. Diinformasikan bahwasanya Kakak untuk hari senin besok mendapat tugas menjadi petugas upacara. Silahkan Kakak diantar  ke sekolah pukul 06.00 WIB untuk melakukan latihan. Memakai atribut lengkap, ya. Terimakasih." Sebuah pesan masuk dari guru kelas kakak di hari Ahad. Sepertinya pekan-pekan sebelumnya kakak cukup tertib saat upacara, hingga dianggap mampu menjadi petugas kali ini. Setelah lima tahun ini membersamai ananda, sudah bisa "dititeni" bahwa aktivitas baru biasanya butuh adaptasi. Rasanya baru kemarin drama sekolah di hari-hari pertama. Jangankan ditinggal, belajar saja minta ditunggui tepat di sampingnya. Alhamdulillah di bulan ketiganya sudah kakak sudah semakin mandiri tanpa butuh ditemani sepanjang proses belajar di sekolah. Dan kali ini, sesuai dugaan. Kakak menolak menjadi petugas upacara sambil matanya berkaca-kaca. "Kakak besok disuruh berangkat pagi, mau jadi petugas upacara lho. Mau?" Senyum yang tadi m

Jejak di Balik Coretan

Selesai "asik-asik" membuat coretan, kakak Wistara menempel karyanya di dinding. Tepat menimpa bekas coretan yang dibuat sang adik kemarin. "Aku tempel di sini buat nutupi coretan adik di dinding, ya?", katanya. Penasaran dengan cerita di balik gambar, saatnya meminta kakak berkisah. "Ada dua orang main di depan rumahnya sendiri-sendiri. Yang satu main pesawat jet, yang satu jalan kaki. Ini ada pohonnya, di pohon ada ayunannya. Orangnya mau ke pegunungan (perhatikan jalanan naik turun). Di jalan ada mobil polisi, jalan dari sini ke sini. Ini rambu-rambu lalu lintas. Pas mobilnya udah lewat, orangnya menyeberang ke sini. Ini sore-sore lagi hujan. Awannya ada yang happy, ada yang marah, ada yang ndomblong, ada yang... BINGUNG!" "Masa satu naik pesawat satu jalan kaki ke pegunungan? Ga diajak naik pesawat?", Bunda mulai ngeyel. "Itu pesawat jet mainan/yang pakai remote control, bukan pesawat beneran.", terangnya. Serasa sed