Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Keinginan Tak Selalu Diraih, Kebutuhan Pasti Datang Bertandang

Satu kegiatan yang dulu sering saya lakukan saat masih single: window shopping alias cuci mata dengan berkeliling toko, pasar, atau mall. Belanja? Belum tentu. Tergantung kondisi kantong atau kebutuhan. Ketika status berubah, kebiasaan ini masih berlanjut. Bedanya kini tak harus pergi keluar rumah karena ada aplikasi marketplace maupun media sosial yang memfasilitasi lapak jual-beli. Tinggal klik-klik masuk keranjang. Tapi jangan tanya kapan dibayarnya. Ada satu merk baju menyusui yang sering menggoda iman bagi saya. Bahan adem dengan bukaan samping membuat saya jatuh cinta. Dari model manset, kaos, tunik, hingga gamis pun ada. Polos hingga motif yang memanjakan mata. Dulu saya sempat menjadi resellernya saat masih menyusui anak pertama. Tentu sering muncul konflik, "dipakai sendiri atau dijual, ya?" Setiap ada motif baju yang gue banget, segera capture buat disimpan. Pas ada diskonan laporan ke pak suami pengen dibelikan. Akhirnya saya memilih untuk berhenti

Alir Rasa Kelas Bunda Cekatan

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Ta'ala yang telah memberikan kelapangan hingga mampu menyelesaikan kelas Bunda Cekatan batch #1 Institut Ibu Profesional.  Challenge Buncek: Done! Terimakasih untuk Ibu Septi Peni Wulandani yang telah menjadi guru bagi kami, setia membawa dongeng istimewa di setiap pekannya. Terimakasih untuk team belakang layar Buncek #1 (Mak Ika dkk), teman-teman satu angkatan, dan tentu all team Griya Wistara yang mendukung saya belajar sampai di tahap ini. Apa yang membuat bahagia selama berada di kelas Bunda Cekatan? Kelas Bunda Cekatan menyimpan banyak sekali stok bahagia yang bisa diambil oleh siapa saja dengan cara yang tak pernah sama. Rasanya tak ada habisnya jika harus disebutkan satu per satu. Potongan gambar berikut cukup mewakili proses yang telah saya lalui. Tahap Telur-Telur Saya jadi tahu apa yang membuat saya bahagia. Apa yang penting dan urgent untuk segera dipelajari. Dan saya diijinkan untuk membuat pe

Menyapih: Saling Mengikhlaskan

Alhamdulillah, bulan lalu adik Wistara #2 genap berumur dua. Momentum H2C alias harap-harap cemas ketika masa penyapihan datang. Akankah tantangan ini semulus jalan tol, ataukah penuh liku semacam sinetron kejar tayang? *** Saya memaknai tugas perkembangan bukan melulu terpatok pada usia tetapi kesiapan anak. Mau tidak mau, harus diakui bahwa itu semua ditentukan juga oleh kesiapan orangtua. Begitu pun dengan proses menyapih kali ini. Meskipun bukan pengalaman pertama, tetapi saya masih belum yakin saat akan memutuskan berhenti mengASIhi anak kedua. Masih ada beban saat mengingat dulu harus menyaksikan kakak menangis sepanjang malam saat disapih. Baru direncanakan saja sudah membuat lelah diri. Belum lagi saat mengingat kembali komentar netizen saat menyapih anak pertama. "Pake weaning with love, biar nggak drama." Semua juga pasti ingin with love, tapi realita bisa beragam hasilnya. "Aku pake lipstik merah cabe." Adakah pengaruh jika diganti ungu lem

Jurnal 4.8: Team Work

Memasuki pekan terakhir di kelas Bunda Cekatan #1 IIP membuat saya lebih melankolis. Serangkaian tahapan yang telah dilalui memberi kesan mendalam. Proses yang tidak mudah menakhlukkan si kokom (komitmen & konsisten) selama 6 bulan ini. Jangan heran jika Kelas Bunda Cekatan tidak pernah membosankan. Selalu ada kejutan seru. Seperti di jurnal terakhir ini, bukan berupa lagi dibuat masing-masing mahasiswi tetapi dibuat per regional. Hemmm... Penasaran kan? Udah kaya bikin project bersama karena semua mahasiswi ikut ambil bagian. Kami saling melempar ide dan dr.Maya didaulat sebagai pimpro. Dipilihlah kolase foto & video dari seluruh member Hima Buncek Malang Raya. Pilihan backsound-nya salah satu lagu dari project #SoundOfJava dari Eka Gustiwana. Bukan Lathi kok, tenang aja. Nggak ada yang berubah menjadi singa. Dan ini puzzle bagian saya. Sepenuh hati bikin doodle kata ini. Rasanya nano-nano kejar DL sehari bikin 5 gambar ini. Auto pake

Doa di Balik Sebuah Nama

Salam kenal, nama saya ... Setiap kali bertemu lingkungan baru, kalimat ini sering saya ucapkan. Dan umumnya akan muncul umpan balik seperti ini: "Siapa tadi, boleh diulang?" "Unik ya, Jawa banget namanya." "Terus dipanggilannya apa?" "Artinya apa itu?" "Maaf, Anda non muslim?" Risiko memiliki nama yang berbeda dengan kebanyakan orang, ya seperti ini. Dulu sewaktu kuliah saya selalu ditanya arti nama oleh setiap dosen yang baru membaca nama saya di daftar kehadiran. Jika dibuat rumus, mungkin  ini yang cocok y=x+n, dengan y=pertanyaan arti nama, x=orang/lingkungan baru, n=perkenalan. Apakah Anda juga memiliki pertanyaan yang sama saat mendengar nama saya? Singkat kata, nama saya memang dibuat berbeda oleh Bapak. "Biar tidak tertukar," sekilas jawaban beliau saat saya tanya mengapa. Bahkan nama kakak perempuan saya lebih unik lagi. Ada yang penasaran? "Apalah arti sebuah nama, andai kau mengganti nama

Jurnal 4.7: Rayakan Kemajuan

Alhamdulillah memasuki pekan ke-7 Bunda Cekatan #1 IIP. Kami masih melanjutkan program mentorship sambil bertukar surat cinta sebagai selebrasi atas apa yang kami capai sampai tahap ini. #TerimakasihMentor #TerimakasihMentee. Kakak mentor yang rajiinn sudah langsung mengirimkan surat cintanya by teks & pesan suara setelah Bu Septi menyampaikan materi di Kamis malam. Jujur saya terinspirasi sekali dengan mentor saya ini. Surat dari Mentor (Kak Gita) #TerimakasihMentor Surat untuk Mentor (Kak Gita) Sementara saya kehilangan 1 mentee karena sudah 2 kali skip jurnal pekanan. Semoga masih bisa melanjutkan proses yang tinggal selangkah lagi. Berproses untuk belajar di tahap berikutnya. Surat untuk Mentee (Kak Rahma) Semoga bisa terbang sempurna menjadi kupu-kupu yang memiliki peran baru menebar kemanfaatan. Surat  Cinta dari Mentee Malang, 06 Juli 2020 Diawinasis M. Sesanti