Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019

Rezeki yang Tertukar

Seperti pagi sebelumnya. Waktu dhuha tiba berarti saatnya kakak berangkat ke sekolah. Bukan jarak yang jauh sebenarnya, tapi bukan juga jarak yang dekat jika ditempuh dengan berjalan kaki. Biasanya si ayah yang melajukan kendaraan roda dua berwarna merah itu. Tentu saja setelah memasang selapis baju tebal dan pelindung kepala warna biru. Tetapi hari ini ayah bertugas pagi, jadi bunda dan adik pun sudah harus bersiap ikut ke sekolah. Sambil menunggu aplikasi ojek daring warna hijau, kami duduk di dekat jalan. Bunda sempat salah mengetik alamat penjemputan, pantas tak ada pengemudi yang menerima pesanan. Jarum jam bergeser lebih mundur dari biasanya. Alhamdulillah akhirnya pesanan disambut, artinya tinggal menunggu jemputan datang. Bunda menyimpan gawai di kantong gendongan. Mengantar kakak sambil menggendong adik, rasanya romantis sekali. Entah hingga usia berapa nanti mereka masih setia menempel seperti ini. Semoga kelak mereka menjadi pribadi yang mandiri, namun tetap menginga

Hari Pertama

Kemarin lusa, tepat lima tahun usiamu menurut kalender matahari. Seiring tahapan berikutnya yang akan kau lalui, semoga Allah tak pernah putus memeluk doa-doa bunda, mengiringi langkahmu ke depannya. Ada rasa sesal dan rasa bersalah mengingat masih banyak kekurangan kami dalam mendampingimu sebagai orangtua. Semoga engkau ridho, Nak. Dan kami masih berwujud manusia, tempat lupa dan khilaf seolah beriringan menghampiri tiap ucap dan laku kami. Bersama dengan permohonan ampun, kami pun tak lepas menitipkanmu pada Rabb semesta. Sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik penjagamu, Nak. Jangan kira bangga dan bahagia tak ada, tak mau ketinggalan haru biru turut serta. Saat melihatmu melangkahkan kaki belajar di luar rumah. Sekolah pilihanmu, dimana masih banyak rindang di sekeliling dan tanah terbuka untuk berpijak. Kulihat binar bahagia di matamu menyiapkan segala pernak pernik sekolah baru. Dari seragam hingga buku yang sebenarnya entah kapan akan mulai ditulisi. Hari yang dinanti

Passion = Binar Bahagia

Sebuah buku cerita bersampul hijau itu sudah berulang kali kubuka. Tiap lembarnya terasa sangat istimewa karena warna-warni, tak seperti barisan buku lain yang ada di rak buku. Dari sampulnya, terlihat seorang putri dan pangeran kerajaan Jawa Timuran. Jangan lupa dengan hewan bercangkang dengan warna kekuningan yang menjadi judul cerita. "Mirip seperti bekicot", batinku saat itu. Bagaimana ceritanya manusia masuk ke cangkang sekecil itu? Usiaku belum genap lima tahun, wajar jika belum bisa membaca. Nama Chandra Kirana dan Inu Kertapati kukenal saat bapak berulang mendongengkan kisah yang sama. Di lain waktu kulihat sebuah pena di meja. Tangan kecilku tak tahan ikut meramaikan gambar ilustrasi di buku tadi. Kuperiksa setiap ruang kosong, jangan sampai ada halaman yang terlewat! "Bukune mboten pareng dioret-oret, Nduk!" , saat ibuk memergoki hasil karyaku. Sejak saat itu aku pun tak lagi mencoreti buku, m eskipun aku tahu membuat coretan itu membahagiakan.

Adu Pendapat

"Anaknya kenapa mbak?" "Dokter bilang kena campak, Bu.", entah pertanyaan ke-berapa yang kujawab dengan jawaban serupa. "Jadi ingat cucuku, seumuran ini juga. Coba pake pati singkong. Parut sendiri. Waktu itu cucuku juga kaya gini, pake pati bisa bersih nggak ada bekas di kulit." "Iya Bu.", aku terima semua saran, aku yakin semua bermaksud baik agar bayi di gendongan segera sehat. Apa sebaiknya mulai kucatat apa saja tips yang sudah kudapatkan gratis dari setiap orang yang kutemui sejak si bayi sakit? "Jangan makan pisang, jangan makan jeruk." Kemudian di hari yang berbeda, ada yang menyarankan banyak makan buah. "Jangan dimandikan", padahal dokter berulang kali berpesan agar tetap dimandikan dengan bersih. "Jangan pakai baju panjang, nanti kegerahan tambah gatal". Sorenya ada lagi komentar, "Pakai baju pendek nanti digaruk terus, ganti yang panjang aja". Terus aku kudu piye?  Kena

Sinetron

Di dunia ini, tak ada kebetulan bukan? Mereka sedang menjalani skenario yang mereka pilih sendiri. "Kupikir, dia gadis tercantik yang pernah kutemui. Belakangan, aku rasa ia tak lagi begitu." "Hmmm?" "Ternyata ada yang lebih cantik darinya." Lelaki berambut ikal itu membuat kesimpulan akhir dari sebuah soal cerita yang sedang dihadapinya. Setelah kalimat itu, esok harinya giliran si gadis semampai yang berujar padaku maksud serupa. Bedanya, ia pasrah saat rasanya tak lagi terbalaskan. Sayup-sayup, kudengar masih ada cinta yang tersisa di antara barisan kata yang diucapnya. "Mau bagaimana lagi, dia sudah tak bisa mempertahankan hubungan ini." Ternyata memang tak ada jaminan tentang sebuah hubungan yang mengaku bernama "pacaran". Meskipun sudah kesana kemari bergandeng tangan. Makan berdua di warung prasmanan kini tinggal menjadi kenangan. Mau mengajukan gugatan pun tak ada kekuatan hukum yang bisa diandalkan.